Minat Baca Rendah Karena Jumlah Buku Sedikit

Putri Anisa Yuliani
13/12/2018 13:55
Minat Baca Rendah Karena Jumlah Buku Sedikit
(Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando -- MI/PANCA SYURKANI)

MINAT baca masyarakat Indonesia dinilai rendah bukan disebabkan karena masyarakat tidak menyukai membaca atau tidak menyukai buku.

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, minat baca masyarakat Indonesia dinilai rendah karena berbagai faktor yang utamanya karena faktor jumlah buku yang beredar sangat sedikit serta tidak merata.

Menurut Syarif, hanya ada 700 ribu buku yang terbit setiap tahun di Indonesia. Rasionya sangat jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mendapai 262 juta jiwa.

Selain itu, Syarif juga mengatakan sebagian besar buku beredar hanya di kota-kota besar terkhusus Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera.

Ia menegaskan masyarakat Indonesia memiliki kegemaran baca yang cukup tinggi. Tetapi tidak diimbangi dengan jumlah buku yang beredar.

"Bagaimana mau membaca jika bukunya saja tidak ada. Inilah yang menjadi masalah. Kalau kita adakan perpustakaan keliling itu pasti sangat ramai pembacanya karena memang kegemaran membaca sangat tinggi," ujarnya pada konferensi pers Deklarasi Gerakan Ibu Bangsa Membaca di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (13/12).

Solusinya Perpusnas rutin mengadakan perpustakaan keliling dengan 800 armada baik yang dibawa melalui mobil, motor, kapal, maupun sepeda. Sebanyak 32 ribu titik disambangi oleh armada perpustakaan keliling bergantian menjangkau 300 kabupaten dan kota setiap tahun.

 

Baca juga: Perpustakaan Nasional Gelar Gerakan Ibu Bangsa Membaca

 

Selain itu, Perpusnas juga telah mengembangkan digitalisasi koleksi buku melalui iPerpus. Melalui situs dan aplikasi iPerpus, masyarakat di seluruh Indonesia yang terkoneksi dengan internet dapat membaca buku-buku yang menjadi koleksi Perpusnas tanpa dipungut biaya di mana saja dan kapan saja.

"Inilah solusi yang kami berikan. Kami juga mengimbau kepada ikatan penerbit untuk memasarkan serta menjual buku-bukunya dalam bentuk buku elektronik sehingga masyarakat di pelosok daerah dapat membeli tanpa harus pergi jauh ke kota besar mencari toko buku yang mana belum tentu toko itu menjual buku yang diminatinya," ujar Syarif. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya