Pendampingan UMKM Jamu demi Produk Berkualitas

Ros/Ind/H-2)
13/12/2018 07:30
Pendampingan UMKM Jamu demi Produk Berkualitas
(. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

SEIRING dengan maraknya penjualan jamu secara daring, masyarakat diminta berhati-hati terhadap produk yang belum terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Bisa jadi produsen herbal itu belum memiliki sertifikat cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB).

"Saat ini sudah 34 UMKM jamu yang memiliki sertifikat CPOTB dan mendapat pendampingan dari industri jamu skala besar, seperti Sido Muncul, Martha Tilaar, Borobudur, dan Mustika Ratu," ujar Kepala Badan POM Penny K Lukito, saat memberi sambutan pada acara Program Terpadu UMKM Berdaya Saing: Pencanangan Gerakan UMKM Jamu Berdaya Saing dan Herbal Expo 2018, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, minum jamu atau obat herbal sudah menjadi budaya turun-temurun. Itu merupakan potensi yang harus dikembangkan.

Lebih lanjut, ia mengatakan, 34 UMKM tersebut berasal dari dua sentra jamu terbesar di Indonesia, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seluruhnya mendapat pengarahan dan pelatihan terkait prosedur memproduksi jamu yang bisa dijadikan bekal untuk meningkatkan kualitas produk dan usaha mereka di masa depan.

Pada acara tersebut Badan POM juga memberikan sertifikat kepada perusahaan jamu yang menjadi pendamping UMKM jamu. Salah satu perusahaan yang menjadi pendamping itu ialah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan perusahaannya dipilih Badan POM untuk menjadi pendamping bagi UMKM jamu agar semakin berkembang. Ia juga berkomitmen untuk membantu UMKM agar bisa memproduksi jamu yang baik.

"Saya menyambut baik ajakan ini karena potensi obat alam kita besar. Usaha kecil harus diberi kesempatan untuk bisa berkembang. Salah satu cara yang paling cocok ialah melalui pendampingan supaya mereka juga bisa mengikuti apa yang kami lakukan," ujarnya.

Menurutnya, pendampingan yang ia berikan, antara lain teknik produksi yang baik, teori pengolahan yang tepat, hingga jenis penyakit apa yang cocok dengan produk itu.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya