Mendampingi UMKM Jamu agar Hasilkan Produk Berkualitas

Rosmery C. Sihombing
12/12/2018 20:19
Mendampingi UMKM Jamu agar Hasilkan Produk Berkualitas
Tantri Kotak dan Mikha Tambayong di salah stand jamu Sido Muncul, pada acara Herbal Expo 2018, di Gedung Smesco Jakarta, Rabu (12/12).()

MARAKNYA penjualan jamu atau herbal lewat online, masyarakat diminta berhati-hati terhadap produk yang belum terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bisa jadi produsen herbal tersebut belum memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

"Saat ini sudah 34 UMKM jamu yang memiliki sertifikat CPOTB dan mendapat pendampingan dari industri jamu skala besar, seperti Sido Muncul, Martha Tilaar, Borobudur, Mustika Ratu, dan lainnya," ujar Kepala BPOM Penny K Lukito, saat memberi sambutan, pada acara Program Terpadu UMKM Berdaya Saing: Pencanangan Gerakan UMKM Jamu Berdaya Saing dan Herbal expo 2018, di Gedung Smesco Jakarta, Rabu (12/12).

Baca juga: Menko Puan Ajak Milenial Konsumsi Jamu

Menurutnya, minum jamu atau obat herbal sudah menjadi budaya turun temurun. Dan itu merupakan potensi yang harus dikembangkan.

Lebih lanjut, ia mengatakan, 34 UMKM tersebut berasal dari 2 sentra jamu terbesar di Indonesia, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seluruhnya mendapat pengarahan dan pelatihan terkait prosedur memproduksi jamu yang bisa dijadikan bekal untuk meningkatkan kualitas produk dan usaha mereka ke depannya.

Pada acara tersebut BPOM juga memberikan sertifikat kepada perusahaan jamu yang menjadi pendamping UMKM jamu. Salah satu perusahaan yang menjadi pendamping itu adalah  PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan perusahaannya dipilih oleh BPOM untuk menjadi pendamping bagi UMKM jamu agar semakin berkembang. Ia juga berkomitmen untuk membantu UMKM tersebut agar bisa memproduksi jamu yang baik.

"Saya menyambut baik ajakan ini karena potensi obat alam kita besar. Usaha kecil itu harus diberi kesempatan untuk bisa berkembang. Salah satu cara yang paling cocok adalah melalui pendampingan supaya mereka juga bisa mengikuti apa yang kami lakukan," ujarnya.

Menurutnya, pendampingan yang ia berikan, antara lain  teknik produksi yang baik, teori pengolahan yang tepat, hingga jenis penyakit apa yang cocok dengan produk tersebut.

"Semakin kita jujur dengan konsumen, produk kita semakin dipercaya. Ke depannya saya berharap akan lebih banyak lagi UMKM jamu yang bisa melindungi konsumen dengan produk-produk berkualitas," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani yang membuka acara tersebut mengatakan dengan adanya sertifikat CPOTB, tidak akan ada lagi perusahaan-perusahaan jamu yang memasukkan zat kimia dalam produknya.

Selain itu Puan juga mengajak para milenial untuk minum jamu. "Ini warisan budaya kita yang harus dilestarikan. Saya pikir perlu ada sosialisasi jamu yang bercorak milenial juga, supaya mereka tertarik," ujar Puan. (Ros/Ind/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya