Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menuntaskan naskah soal dan kisi kisi Ujian Nasional (UN) serta Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tahun 2019.
“Semua naskah soal dan kisi kisi UN dan USBN 2019 telah tuntas termasuk Pedoman Operasional Standar atau POS nya,“ kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Supriyanto usai Seminar Perbaikan Pembelajaran Berdasarkan Hasil Penilaian di Kemendikbud Jakarta, Selasa (11/12).
Menurut Totok pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah menentukan jadwal pelaksanaan UN dan USBN tahun ajaran 2018-2019. UN 2019 rencananya dilaksakan dalam 2 pilihan sistem yakni: Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK) dan Ujian Nasional Berbasis Kertas Pensil ( UNKP). “Kita menargetkan UN tahun depan pelaksanaan UNBK nya mencapai 100 persen, “tegas Totok.
Menyinggung soal yang bersifat High Order Thinking Skills (HOTS), hemat dia tidak jauh berbeda dengan tahun lalu sekitar 10 soal seandainya ditambah hanya satu soal saja jadi sekitar 10-11 soal yang bersifat HOTS.
Dalam kesempatan sama, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Supriano mengutarakan kajian pembelajaran dan penilaian oleh Balitbang Kemendikbud akan menjadi bahan masukan dalam pelaksanaan program Direktorat GTK Kemendikbud.
Dia mencontohkan dari indicator mutu secara internal tentang hasil UN maka pihaknya akan mengkaji pelatihan yang disiapkan untuk guru guru dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Misalnya terjadi nilai UN mata pelajaran Matematika rendah bidang logaritma atau geometri maka guru guru MGMP Matematika dilatih meningkatkan mutu mapel tersebut.
Nara sumber lainnya pada seminar tersebut, Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB Iwan Pranoto berpendapat, proses berpikir nalar tinggi atau HOTS tersebut sudah ia ingatkan kepada kepada pemerintah sejak 18 tahun lalu.
Hemat dia, jika nilai anak-anak Indonesia mendapat rapor jelek pada peringkat PISA merupakan hal yang memprihatinkan. “Itu merupakan setengah dari cerita sedih. Setengahnya lagi tidak ada peningkatan selama 18 tahun," ungkapnya.
Dia mengutarakan dirinya termasuk percaya bahwa kurikulum mau diubah dengan pola bagaimanapun, guru digaji tinggi berapa pun tetapi jika kecakapan guru dalam mengajar tidak meningkat maka nilai PISA sampai kapanpun tidak akan beranjak dari nilai rendah.
Iwan yang pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Indonesia di India mempertanyakan untuk apa Indonesia mengikuti peringkat PISA tetapi tidak melakukan perbaikan. “Jika kita teruskan praktek yang sama dengan bumbu yang sama maka hasil masakannya pun akan sama sehingga tidak ada perubahan, bagaimana kita dapat meraih peringkat tinggi dalam PISA," tegasnya.
Iwan yang dikenal sebagai praktisi pendidikan yang kritis ini juga mengkritisi masih jeleknya mutu buku teks di Indonesia. Menurutnya, membuat buku bukanlah hal yang mudah namun prakteknya selama ini buku teks dilakukan dengan cara yang mudah yakni hanya mengumpulkan guru lalu dikejar target untuk segera menyelesaikan buku yang diminta.
Sebab itu, ia mengusulkan lebih baik pemerintah menterjemahkan buku-buku dari luar negeri yang sudah terkenal baik. Kalaupun ingin membuat buku teks maka dia meminta standarnya harus internasional. "Saya usul lebih baik terjemahkan buku luar negeri. Pilih yang bagus lalu diubah namanya. Khususnya matematika kan tidak ada yang beda matematika di Kanada ataupun Jakarta," pungkasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved