Rekor Terbanyak di Media Sosial untuk Lomba Resensi Puisi Esai

Micom
11/12/2018 11:35
Rekor Terbanyak di Media Sosial untuk Lomba Resensi Puisi Esai
(FOTO ANTARA/Ujang Zaelani)

BALI sudah menjadi kunjungan parawisata kelas dunia. Apa jadinya jika seorang wanita Bali mendapatkan penghasilan dan kedudukan sosialnya lebih tinggi dari suami? Ini mengganggu ajeg Bali, kultur lokal yang eksotis.

Di Yogyakarta, tradisi raja turun temurin datang dari para lelaki. Hamangkubuwono selalu pria. Bagaimana jika pengganti sang Raja yang paling kompeten saat ini adalah wanita? Mungkinkah? Itulah contoh beberapa kearifan lokal yang direkam dalam 34 buku puisi esai. Serial buku itu dilombakan untuk diresensi.

Desember ini, sebanyak 858 resensi dari 34 provinsi sudah dipublikasi di ratusan akun Facebook. Ini lomba resensi buku yang pertama yang penulisnya dari seluruh provinsi Indonesia, tidak ada satu pun provinsi terlewat. Sejauh ini, sebanyak 858 resensi di facebook itu adalah rekor.

Pengumuman resmi sudah dibuat oleh panitia lomba resensi buku nasional. Panitia terdiri atas Nia Samsihono sebagai ketua dan Gunoto Saparie serta Dhenok Kristianti sebagai anggota.

Menurut Denny JA, penggagas puisi esai, lomba resensi itu bertujuan dua hal. Pertama, memopulerkan kisah lokal (local wisdom) di 34 provinsi yang direkam  oleh lebih dari 170 penyair, dari Aceh hingga Papua.

"Melalui 34 buku puisi esai itu, kita dapat belajar soal suasana batin, kekayaan budaya, jeritan hati, ketimpangan sosial, kehangatan komunitas yang terekam dalam memori kolektif dari seluruh pelosok Indonesia," ujar Denny dalam keterangannya, Selasa (11/12).

Sebanyak 34 buku puisi esai sudah tuntas diterbitkan di Facebook perpustakaan puisi esai. Publik dapat membacanya secara gratis. Namun, lanjut Denny, lomba resensi atas 34 buku ini akan lebih memopulerkan serial buku itu.

"Kedua, media sosial menjadi sarana publik luas untuk mengakses karya budaya secara masif. Siapa pun, kapan pun, dimana pun, sejauh tersambung dengan internet dapat mengakses karya budaya," imbuhnya.

Lebih lanjut Denny mengatakan, sengaja lomba resensi ini mensyaratkan tulisan harus dipublikasi di akun Facebook masing-masing atau di akun Facebook lomba puisi esai. Di setiap provinsi juga ada panitia lomba untuk memfasilitasi para penulis lomba di provinsi itu untuk masuk ke media sosial.

"Hasilnya adalah sebuah inovasi. Komunitas puisi esai akan dikenang turut meletakkan tradisi media sosial bagi perpustakaan dan lomba puisi," pungkas Denny.

Tiga panitia, Nia, Gunoto, dan Dhenok telah mengumumkan pemenang juga di Facebook. Total hadiah Rp200 juta untuk 3 pemenang utama, 10 pemenang hiburan, dan 102 pemenang provinsi. Angka 102 itu berasal dari 3 pemenang dikali 34 provinsi.

Pemenang pertama ialah Mourissa Celestine Belinda dari DKI Jakarta. Ia mengulas buku puisi esai soal kearifan lokal di Provinsi Bali. Pemenang kedua Marlen Wariunsora dari Maluku. Ia menyajikan kisah drama dan sosial buku puisi esai dari provinsinya. Adapun pemenang ketiga M Nurhasanudin dari Yogyakarta. Ia meresensi buku puisi esai.

Sebanyak 115 naskah pemenang dari 34 provinsi ini akan dibukukan. Publik luas dapat membacanya secara gratis melalui perpustakaan puisi esai yang ada di Facebook. Selanjutnya 34 puisi esai terpilih dari 34 provinsi akan dibuatkan filmnya bekerja sama dengan stasiun TV.  (RO/OL-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya