Penguasaan Digital Kunci bagi Humas 4.0

Dhika Kusuma Winata
11/12/2018 13:50
Penguasaan Digital Kunci bagi Humas 4.0
(Kasubdit Humas Perpajakan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Ani Natalia -- Dok.MI)

DI era revolusi teknologi 4.0 ini, komunikasi digital wajib dikuasai humas. Agar pesan yang disampaikan bisa berdampak luas, strategi komunikasi perlu dikemas dan dikomunikasikan secara cepat, kreatif, atraktif, dan tepat sasaran. 

Hal itu mengemuka dalam diskusi Konvensi Nasional Humas (KNH) 2018 di Gedung Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (11/12).

Menurut Kasubdit Humas Perpajakan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Ani Natalia, komunikasi digital menyimpan kekuatan besar yang bila dioptimalkan akan berdampak besar bagi institusi.

Karena itu, pihaknya memanfaatkan berbagai kanal digital untuk berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai lapisan. Setiap unit kantor Ditjen Pajak kini memiliki akun media sosial yang jumlahnya sudah mencapai 309 akun. 

Mereka bertugas menyebarkan informasi perpajakan ke publik. Bahkan, kata Ani, pemanfaatan media sosial juga penting untuk melawan kampanye negatif.

"Kami bahkan pernah melawan kampanye setop bayar pajak yang dulu sempat viral di medsos. Itulah mengapa komunikasi digital sangat penting," ucapnya.

Menurutnya, tidak mudah memberikan informasi perpajakan kepada masyarakat luas agar mudah dicerna. Strategi komunikasi perlu dikemas secara kreatif. Jangan memberikan informasi yang kaku kepada masyarakat seperti peraturan-peraturan. 

Informasi seperti itu perlu dikemas melalui penjelasan yang memudahkan dan ilustrasi gambar, infografik, ataupun video.

"Kuncinya ialah kreativitas, diferensiasi, dan kecepatan. Kita harus selalu kreatif," ujarnya.

 

Baca juga: Malacca Strait Jazz Road to 2019

 

Sementara itu, VP Coorporate Communication PT Telkom, Arif Prabowo, memgatakan tantangan humas di era revolusi teknologi saat ini ialah memahami perilaku digital masyarakat. 

Riset dan penguasaan big data penting agar pengolahan pesan bisa sesuai sasaran audiens. Perubahan penyampaian pesan perlu dilakukan dari massive targeting menjadi micro targeting.

"Audiens kini terbagi sesuai preferensinya masing-masing. Riset diperlukan untuk memahami audiens sasaran, saluran apa yang akan kita pilih, dan konten apa yang akan kita sampaikan. Campaign sekarang tidak lagi bisa satu pesan untuk semua orang tapi lebih spesifik karena setiap segmen masyarakat memerlukan konten yang tepat." (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya