Cetak Inkubator Bisnis Kampus Mesti Kolaborasi Bersama

Syarief Oebaidillah
05/12/2018 15:45
Cetak Inkubator Bisnis Kampus Mesti Kolaborasi Bersama
(MI/ARYA MANGGALA)

IMBAUAN Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir, yang meminta semua kampus berakreditasi A dan B wajib memiliki inkubator bisnis teknologi (IBT) mendapat sambutan positif. Salah satunya Universitas Tarumanagara (Untar) telah siap melaksanakan hal tersebut.

Rektor Untar, Prof Dr Agustinus Purna Irawan, menyatakan, kampusnya telah menangani IBT melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni yang menangani entrepreneur atau kewirausahaan.

"Sebagai institusi pendidikan tinggi kami memfasilitasi dan mendorong mahasiswa dan dosen , kami bantu sepenuhnya dalam pembiayaan maupun kebutuhan pakar dalam mendukung inkubator bisnis di Untar," kata Agustinus di Kampus Untar, Jakarta, Rabu (5/12).

Agustinus mencontohkan di sejumlah fakultas telah berjalan proses pendukungan IBT melalui sejumlah kegiatan bisnis, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Seni Rupa dan Disain melalui kegiatan setiap semester dengan Entrepreneur Week, para mahasiswa mempromosikan produk-produk karya mereka langsung di masyarakat yang diselenggarakan di pusat-pusat perbelanjaan.

Menurutnya, kegiatan Untar yang telah berakreditasi institusi A ini sejalan dengan program pemerintah yang ingin mengedepankan industri kreatif melalui generasi muda. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam berwirausaha dan memamerkan serta menjual produk dari bisnis yang mereka kembangkan.

Melalui even ini, para mahasiswa tidak hanya diberi kesempatan mempraktekkan berbagai konsep kewirausahaan, dengan menampilkan prototipe bisnisnya kepada khalayak ramai dan bersimulasi di dalam lingkungan bisnis yang sesungguhnya, tapi juga dilatih untuk menjadi pengusaha yang nantinya berkontribusi pada pembangunan bangsa.

"Jadi dari sisi kelembagaan kita siapkan dan dari sisi mahasiswa telah mempunyai kesadaran berbisnis apalagi mahasiswa kami sekitar 60-70% keluarga mereka mempunya latar belakang bisnis," cetusnya.

Namun begitu, Agustinus berharap mesti ada kolaborasi bersama antara pemerintah, kalangan industri dan perguruan tinggi atau yang lebih dikenal disebut triple helix tersebut.

"Kami berharap ada kolaborasi bersama yang kuat dengan regulasi yang baik antara triple helix. Karena saya melihat hal ini masih ada kendala dalam mewujudkannya," ujarnya.

Dia mencontohkan sebagai kampus yang juga mengembangkan kegiatan kreatif robot, ada alumni yang juga dosen Untar dan kini mengembangkan bisnis robot dan otomasi menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri seperti Jerman dan Jepang.

"Karena ia merasa khawatir sulit berhadapan dengan dunia birokrasi dalam mengembangkan inkubator bisnisnya dia berkolaborasi dengan negara lain Jepang dan Jerman dan kini telah maju berkembang. Jadi dari sisi regulasi harus ada keterbukaan dan kepastian berbisnis," tukasnya.

Dihubungi terpisah, Wakil Rektor UI, Prof Dr Bambang Wibawarta, mengutarakan, kampusnya telah lama mempunyai IBT melalui Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis UI.

"UI sudah sejak tujuh tahun lalu mengembangkan IBT diantara produk yang diciptakan adalah Belimbing Island dan produk lainnya," ungkap Bambang.

Dikatakan, produk Belimbing Island sudah tersedia di pasar. Jadi proses hilirisasinya telah berjalan lancar.

"Tapi, mungkin sebaiknya juga ada fasilitasi dari pemerintah. Karena pemerintah mempunyai banyak punya link atau network dan kerja sama dengan berbagai industri," tukasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya