Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKNOLOGI nuklir tidak hanya dikembangkan untuk listrik maupun kesehatan. Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) juga telah mengembangkan teknologi nuklir untuk peningkatan kualitas pangan seperti pada tanaman padi.
Peningkatan kualitas padi ini telah dilirik berbagai daerah termasuk oleh Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Bupati Agam, Indra Catri, pun hadir langsung ke kantor pusat Batan, Serpong, Tangerang Selatan guna mendiskusikan perihal kerja sama pemanfaatan teknologi tersebut.
"Agam memiliki banyak varietas padi yang unggul. Hanya sayang kami hanya bisa panen satu sampai dua kali setahun. Kami iri dengan orang Jawa yang bisa dua sampai tiga Kali panen dengan teknologi Batan," kata Indra ditemui usai ikut hadir dalam acara Ulang Tahun ke-60 Batan, Rabu (5/12).
Jenis varietas padi dari Kabupaten Agam yang akan dikembangkan kualitasnya di Batan antara lain Sampek Angke, Kusui, dan Gogo.
Selain beras, Indra juga tertarik dengan teknologi pengawetan makanan menggunakan radiasi nuklir. Pengawetan ini dimaksudkan untuk memperlama masa kemas makanan agar bisa memenuhi kebutuhan ekspor.
Menurutnya selama ini belum banyaknya pemasaran kuliner khas Sumbar ke pasar internasional disebabkan pengawetan yang belum memadai serta pemenuhan standar internasional dari negara pengimpor.
"Ini salah satu upaya kita agar makanan kita seperti rendang bisa semakin mendunia. Mudah-mudahan juga tidak lama lagi bisa jual beras sampai ke Swiss," ucapnya.
Baca juga: Batan Harus Perluas Jaringan Untuk Memasyarakatkan Teknologi Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Aplikasi Teknologi Nuklir Batan Efrizon Umar mengungkapkan pihaknya sudah memperbaiki 23 varietas padi yang ada di Indonesia. Namun, kesemua varietas yang telah ditingkatkan kualitasnya itu belum mampu dipasarkan ke daerah karena karakteristik beras yang digunakan di daerah berbeda-beda.
Untuk itu, pihaknya mengubah kebijakan dengan menawarkan penelitian guna meningkatkan kualitas varietas padi unggulan di masing-masing daerah.
"Daripada kita paksakan lebih baik padi jagoan yang di daerah kami kembangkan. Karena selera berbeda-beda, ada yang sukanya beras pera, ada yang suka pulen," ungkapnya.
Efrizon juga mengungkapkan beras maupun makanan yang telah diradiasi tetap aman dan tidak memiliki efek samping berbahaya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Saat ini pihaknya pun tengah mengembangkan varietas padi jenis Rojolele yang merupakan produksi khas daerah Kabupaten Klaten, Yogyakarta. Padi hasil pengembangan itu diklaim memiliki masa tanam menuju panen hanya 100 hari lebih pendek dari masa tanam sebelumnya yang mencapai 150 hari.
"Selain itu, tanamannya lebih pendek sehingga tahan angin ribut dan hujan lebat. Saat ini sedang diajukan untuk sertifikasi di Kementerian Pertanian," kata Efrizon.
Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnusubroto berharap dengan lebih banyak lagi kerja sama dengan daerah tentang pemanfaatan teknologi nuklir bisa membantu memasyarakatkan teknologi nuklir kepada masyarakat. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved