Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGIAN masyarakat tengah gandrung dengan beberapa jenis diet populer. Yang paling hit ialah diet ketogenik atau sering disebut diet keto. Pelaku diet itu sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat. Mereka banyak mengonsumsi pangan sumber lemak dan protein.
Menurut dokter spesialis gizi dari Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB) dr Diah PT SpGK, pelaku diet keto memang banyak mengalani penurunan berat badan. Bagi mereka yang bertujuan mengurangi bobot tubuh, hasil itu tentu menyenangkan.
"Tapi, sampai sekarang diet tersebut belum melalui kajian dalam jurnal-jurnal ilmiah. Efek jangka panjangnya terhadap kesehatan belum diketahui," ujar Diah usai seminar bertajuk Fit, Fun, & Healthy yang digelar RSPB, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (1/12).
Jika ditinjau dari ilmu gizi, lanjut Diah, diet keto memiliki potensi merugikan pelakunya karena diet itu menganjurkan seseorang banyak-banyak mengonsumsi lemak. Jumlah asupan lemak jenuh pun tak dibatasi. Padahal, berbagai penelitian menyebutkan konsumsi lemak jenuh yang terlalu banyak berpotensi menimbulkan plak pada pembuluh darah hingga membuat seseorang berisiko terkena serangan jantung dan stroke.
Lantas diet seperti apakah yang aman dan benar? Diah menganjurkan agar seseorang yang ingin menurunkan berat badan untuk mengikuti diet dengan konsep gizi lengkap seimbang. Artinya, tetap mengonsumsi sumber zat gizi makro, yakni karbohidrat, protein, dan lemak dalam jumlah seimbang. Serta memenuhi kebutuhan zat gizi mikro, yakni vitamin dan mineral.
"Semua orang membutuhkan semua zat-zat gizi tersebut, termasuk yang lagi diet. Tinggal pemilihan jenisnya, serta porsinya yang disesuaikan dengan tujuan menurunkan berat badan," terang Diah.
"Jadi, orang diet tetap boleh konsumsi nasi. Nasi itu salah satu sumber karbohidrat, zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Tapi sebaiknya pilih nasi merah yang seratnya tinggi sehingga bisa menimbulkan efek kenyang lebih lama. Yang jadi masalah, konsumsi banyak nasi tapi kurang gerak, akhirnya sisa energi dari nasi menumpuk dan disimpan tubuh dalam bentuk lemak," lanjut Diah.
Pada prinsipnya, lanjut Diah, untuk menurunkan berat badan, seseorang harus mengurangi asupan kalori melalui pengurangan porsi makan serta meningkatkan pengeluaran energi melalui olahraga dan memperbanyak aktivitas fisik.
Terkait dengan aktivitas fisik, pada seminar tersebut, peserta yang terdiri atas masyarakat awam juga diajak mempraktikkan gerakan-gerakan senam sederhana oleh instruktur dari Project Mager (Mari Gerak). (*/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved