Kanker Paru-Paru Paling Mematikan

Putri Anisa Yuliani
05/12/2018 00:15
Kanker Paru-Paru Paling Mematikan
(tHINKSTOCK)

INDRODJOJO Kusumonegoro atau lebih dikenal dengan Indro Warkop tidak mengira batuk yang mendera istrinya, Nita Octobijanty, sekitar setahun lalu, merupakan gejala kanker paru-paru. Ketidaktahuan itulah yang membuat ia ketika itu membawa sang istri ke dokter spesialis THT (telinga, hidung, tenggorok).     

Padahal, batuk berkepanjangan, nyeri dada, dan sesak napas merupakan gejala kanker paru-paru yang muncul ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut. "Almarhum setahun sebelumnya sudah batuk lama dan sakit sekali. Apalagi dia merokok. Tapi, kami tidak berpikir itu ke (kanker) paru-paru. Saat itu ia saya bawa ke THT," ujar Indro tentang penyakit kanker paru-paru yang merenggut nyawa istrinya Oktober lalu.

Karena banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui tentang gejala kanker paru-paru, ia berharap sosialisasi tentang penyakit itu digencarkan agar masyarakat bisa mengenali gejalanya, termasuk gejala jenis kanker lainnya sebab, ujar Indro, ketidaktahuan tentang gejala kanker paru-paru itulah salah satu penyebab tingginya angka kematian pasien kanker.

"Kami yang sebetulnya punya dan mampu mendapat akses informasi (tentang kanker paru-paru) saja melangkahnya tidak tepat, apalagi mereka yang betul-betul tidak paham," katanya dalam diskusi Lung Cancer and Me: Beda Jenis, Beda Perjalanan, di Jakarta pekan lalu.

Selain perlunya mengetahui gejala kanker paru-paru, mereka yang salah satu anggota keluarganya terkena penyakit tersebut harus memberi dukungan penuh kepada pasien dalam menjalani pengobatan sebab pasien membutuhan dukungan keluarga lantaran sulitnya tahapan pengobatan serta dampak yang ditimbulkan dalam proses pengobatan tersebut. Belum lagi terkait dengan biaya langsung maupun tidak langsung yang harus dikeluarkan pasien dan keluarga selama pengobatan.

"Ketika seseorang divonis kanker, penyakit itu bukan menjadi milik dia (pasien) sendiri. Penyakit kanker itu menjadi milik keluarga. Seluruh komponen keluarga harus ikut mendukung, berempati sehingga pasien tidak merasa sendiri," ujarnya.

Kanker paru-paru kini masih menjadi kanker paling mematikan di Indonesia. Dari 30.023 jumlah pasien kanker paru-paru, sebanyak 26 ribu pasien di antara mereka meninggal dunia pada 2018. Jenis kanker paru-paru terbanyak di Tanah Air ialah adenokarsinoma.

Harapan hidup rendah
Menurut Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri penyebab penyakit kanker paru-paru menjadi kanker yang paling mematikan karena memang tidak adanya gejala pada stadium awal.

Gejala justru muncul ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut, antara lain, batuk berkepanjangan hingga mengeluarkan darah, kelelahan yang amat sangat, nyeri atau sesak napas di dada, hingga pembengkakan pada wajah dan leher.

"Harapan hidup pasien kanker paru-paru sangat rendah, yakni hanya 12% jika dibandingkan dengan jenis kanker lain. Deteksi dan penegakan diagnosis sejak dini sangat penting, terutama bagi orang-orang dengan risiko tinggi kanker paru-paru sehingga mereka bisa mendapat pengobatan yang tepat dan bermutu," katanya.

Berdasarkan data Globocan 2018, tingginya angka kematian kanker paru-paru karena kepedulian pasien dan deteksi dini yang rendah. Menurut dokter ahli paru dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Alex Ginting pengobatan yang tertunda serta ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan juga menjadi faktor penyebab tingginya tingkat kematian pasien kanker tersebut di Indonesia. Pengobatan tertunda umumnya karena ketidaktahuan terhadap gejala kanker paru-paru sehingga tidak ada deteksi dini.

Ia mengungkapkan, saat ini pengobatan kanker di dunia sudah sangat maju dan terus diperbarui melalui berbagai penelitian. Sayangnya, pemerintah belum bisa mengikuti perkembangan tersebut, bahkan pada era BPJS Kesehatan, menurutnya, pemerintah malah berjalan mundur.
"Karena ada beberapa obat yang tidak lagi ditanggung (oleh BPJS Kesehatan) dan tidak semua jenis obat yang ada di luar negeri tersedia di sini (Indonesia)," terangnya dalam diskusi tersebut.

Perokok berisiko tinggi
Ahli kanker dari RS Dharmais Jakarta Evlina Suzanna mengatakan, orang-orang yang memiliki risiko tinggi kanker paru-paru ialah mereka yang merokok, yakni berkisar antara 85% hingga 95%. Kanker paru umumnya terjadi pada para perokok jangka panjang.

"Faktor lain penyebab kanker paru-paru, yakni karsinogen, seperti zat kimia, virus, hormon, dan iritasi kronis. Selain itu, adanya faktor genetis atau riwayat kanker dalam keluarga," katanya.

Selain perokok, yang memiliki risiko tinggi terkena kanker paru ialah ibu rumah tangga yang kerap terkena asap dari pembakaran saat memasak di dapur. Asap pembakaran dari kompor dan masakan, menurutnya, dapat bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker. Risiko akan semakin tinggi apabila kondisi dapur tidak sehat, yakni sempit dan tidak memiliki ventilasi udara.

Dilihat dari jenis kelamin penderita, di Indonesia kanker paru-paru lebih banyak ditemukan pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan, yakni mencapai 65% berbanding 35%. Namun, angka kematian pada keduanya sama tinggi, yakni mencapai 88%. Tingginya angka kematian itulah yang menjadikan kanker paru-paru sebagai kanker paling mematikan. (H-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya