Kelola Sampah dari Sumbernya

Putri Anisa Yuliani
04/12/2018 04:00
Kelola Sampah dari Sumbernya
(ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/)

KEHADIRAN bank sampah di wilayah permukiman menjadi solusi dalam menekan jumlah sampah yang beredar. Inisiatif pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat itu dinilai lebih efektif dalam mendobrak cara pandang masyarakat di era serbainstan saat ini.

Masyarakat diminta lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan mereka. Hal itu dapat diwujudkan dengan pelibatan publik dalam pengelolaan sampah nasional, mulai rumah tangga, komunitas, sekolah, perkantoran, dunia usaha, dan kawasan lainnya.

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, menegaskan itu saat membuka Rakornas Bank Sampah di Jakarta, kemarin.

"Pendekatan pengelolaan sampah harus dilakukan melalui pengelolaan sampah di sumbernya, berbasis partisipasi masyarakat dengan membangun kesadaran masyarakat (mindset) untuk memilah dan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) melalui bank sampah di wilayah permukiman," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah turut menyumbang pencemaran laut. Sebanyak 70% sampah yang mengotori laut berasal dari daratan.

Pada 2016, sebesar 65 juta ton sampah dihasilkan dengan estimasi timbulan sampahnya 0,7kg/hari. Dari jumlah itu, sebanyak 57% sampah nasional merupakan sampah organik, sampah plastik (16%), sampah kertas (10%), dan sampah lainnya (17%).

Jika dibandingkan dengan kondisi 2013, terjadi peningkatan sampah anorganik khususnya plastik sebanyak 16%. Hal itu sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang serbapraktis dan lebih menggemari produk.

Karena itulah, pendekatan pengelolaan sampah melalui daur ulang di tengah masyarakat harus giat digerakkan sebab sebanyak 36% sampah berasal dari rumah tangga. Lewat bank sampah, kata Vivien, masyarakat berperan aktif memilah serta mendaur ulang sampah yang dalam jangka panjang dapat menumbuhkan circular economy.

"Dengan cara memaknai sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna," imbuhnya.

Meski kecil, pertumbuhan bank sampah di Indonesia dinilai sebagai hal positif. Jika pada 2015 jumlah bank sampah di Indonesia ada 1.172 unit, pada 2017 jumlah bank sampah di Indonesia mencapai 5.244 unit di 34 provinsi dan 219 kabupaten/kota di Indonesia.

Vivien mengatakan, bank sampah berkontribusi menurunkan sampah nasional sebesar 1,7%, memberi peluang pekerjaan serta pemasukan tambahan. Salah satu Bank Sampah Induk di Jakarta Barat omzet per tahunnya bahkan mencapai angka fantastis sebesar Rp4,5 miliar.

Dengan konsep circular economy, sampah berubah bentuk menjadi lebih bernilai. Di Kota Cimahi, Jabar, sampah bisa untuk membayar biaya sekolah, membayar listrik, membeli sembako di Makassar, Sulsel, sampai membiayai kesehatan di Kota Malang, Jatim.

Terkendala lahan

Pemerintah, kata Vivien, mendukung penuh semua kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk dikelola di sumbernya melalui mekanisme bank sampah melalui adanya dana insentif daerah (DIS). Insentif ini akan diberikan pada daerah yang memiliki kinerja baik dalam pengelolaan sampah.

Daerah pun sudah diwajibkan memiliki rencana kebijakan pengelolaan sampah dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 Tahun 2017. "Minimal satu desa/kelurahan memiliki satu bank sampah, serta minimal satu kabupaten/kota memiliki bank sampah induk yang berfungsi sebagai off taker (bulog persampahan)," ujar Vivien.

Akan tetapi, salah satu kendala yang dialami warga untuk mewujudkan bank sampah ialah sempitnya lahan. Kepala Pasar Santa, Jakarta Selatan, Achmad Subhan, yang sudah delapan tahun mengelola bank sampah mengungkapkan, lahan sangat dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pemilahan sampah.

Karena lahan yang sempit, bank sampah yang ia kelola tidak mampu terlalu banyak menampung sampah yang hendak dijual kepada pengepul. "Lahan sangat dibutuhkan. Di sini sempit, jadi untuk memilah agak sulit. Daya tampung tempat pengumpulan sampah di sini hanya beberapa karung saja. Jadi, begitu terkumpul beberapa karung langsung menghubungi pihak pengepul untuk diambil," terang Subhan.

Selama ini, bank sampah di sana berperan besar memangkas jumlah sampah yang dibuang ke TPA Bantar Gebang, Bekasi. Selain itu, para pedagang pasar juga mendapatkan manfaat ekonomis dari hasil penjualan sampah. (H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya