Kebijakan Afirmatif untuk Munculkan Potensi Penyandang Disabilitas

Ind/ Mut/S4-25
03/12/2018 15:05
Kebijakan Afirmatif untuk Munculkan Potensi Penyandang Disabilitas
(ANTARA)

PARA penyandang disabilitas memiliki hak dan kedudukan hukum yang sama sebagai warga negara. Mereka punya potensi yang dapat dikembangkan dan mampu mandiri dengan dukungan lingkungan, pemangku kepentingan, serta pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Itulah pesan utama yang disampaikan Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Puncak Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2018 yang bertempat di Mal Sumarecon Bekasi, kemarin. Tema yang diangkat dalam Hari Disabilitas Internasional 2018 ialah Empowering persons with disabilities and ensuring inclusiveness and equality. Di Indonesia diterjemahkan dalam tema Indonesia inklusi dan ramah disabilitas.

Menurut Mensos, semua pihak berperan dalam menciptakan lingkungan ramah bagi para penyandang disabilitas, termasuk membuat kebijakan afirmatif yang dibutuhkan. “Kami ingin membuka wawasan masyarakat luas bahwa disabilitas punya potensi. Hanya, perlu ada kebijakan afirmatif agar potensi yang belum tergali bisa dibantu diaktualisasikan,” ujar Mensos ketika membuka pameran dan ekspose program penyandang disabilitas sebagai bagian dari perayaan Hari Penyandang Disabilitas Internasional (HDI) 2018.

 

Ia mengatakan momentum perayaan Hari Disabilitas Internasional merupakan upaya meneguhkan komitmen bangsa Indonesia dalam pemenuhan hak-hak disabilitas. Untuk mewujudkannya, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Melalui pijakan aturan itu, pemerintah mengajak semua pihak untuk mewujudkan kesamaan hak dan kesempatan bagi penyandang disabilitas menuju kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan tanpa diskriminasi.

Beragam upaya dilakukan pemerintah melibatkan para pemangku dalam rangka pemenuhan hak penyandang disabilitas. Salah satunya, Kemensos mengha dirkan ekspose program/ layanan inklusif dan produk penyandang disabilitas.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat secara langsung program-program ramah disabilitas yang telah dilaksanakan di Indonesia serta mempromosikan karya-karya penyandang disabilitas yang kreatif dan inovatif,” tuturnya.

Sejalan dengan tema HDI 2018, lanjut Mensos, ekspose program/layanan inklusif dan produk penyandang disabilitas diharapkan membuka wawasan masyarakat akan potensi dan kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas. Ini diharapkan dapat memulihkan stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap penyandang disabilitas.


Hak

Sebelumnya, Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita memaparkan terkait dengan 24 hak penyandang disabilitas menurut UU 8/2016, di antaranya, hak hidup dan hak bebas dari stigma. Selain itu, hak keadilan, hak perlindungan hukum, hak pendidikan, hak pekerjaan, hak politik dan konsesi, hak keagamaan, termasuk hak pendataan.

Namun, harus diakui belum semua hak penyandang disabilitas terpenuhi seperti hak aksesibilitas dan hak pelayanan publik. “Akses yang ramah untuk penyandang disabilitas masih jauh dari sempurna, terutama di daerahdaerah di luar Jakarta. Peringatan HDI menjadi momentum yang tepat untuk menyempurnakan pemenuhan hakhak mereka menuju Indonesia ramah disabilitas,” ujarnya saat jumpa pers menjelang peringatan HDI di Jakarta, Jumat (30/11).

 

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2012, penyandang disabilitas di Indonesia sebanyak 6.008.640 jiwa. Itu pun belum mencakup seluruhnya karena masih banyak penyandang disabilitas yang belum terdata secara baik. “Karena itu, kalau ada keluarga penyandang disabilitas agar dilaporkan supaya terdata dan mendapatkan hak-haknya,” ucap Mensos.

Selama ini pemerintah berupaya memenuhi hak-hak penyandang disabilitas. Kemensos dalam hal ini bertanggung jawab atas urusan pembangunan sumber daya manusia, khususnya penyandang disabilitas. Salah satunya ialah mengembangkan Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) atau disebut Balai Abiyoso.

Balai Abiyoso merupakan balai penyedia literasi braille yang memiliki fungsi, salah satunya sebagai aksesibilitas informasi, termasuk pendukung pendidikan bagi disabilitas netra.

“Secara tupoksi, tugas ini memang bukan hanya di Kemensos, melainkan juga di kementerian lain. Tapi, kami tetap berkoordinasi lintas kementerian/lembaga untuk penyempurnaan sarana-sarana fasilitas penyandang disabilitas agar semakin baik,” tandasnya.


Kartu

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Edi Suharto mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan 7.000 kartu penyandang disabilitas (KPD) yang terintegrasi dengan kartu tanda penduduk (KTP). Kartu itu nanti mempermudah identifikasi para penyandang disabilitas.

“Yang terpenting, kartu itu jangan sampai hanya sebatas kartu, tapi dapat memberikan manfaat. Kami mengharapkan pemerintah daerah (pemda) dapat membuat kebijakan afirmatif yang memudahkan akses serta fasilitas para pengguna KPD,” tuturnya.

Menurut Edi, mekanisme penyaluran KPD dilakukan secara bertahap, mulai Pulau Jawa. Ke depan, tentu dilanjutkan dengan target daerah daerah lain yang dinilai sudah siap secara basis data terpadu (BDT) hingga menyeluruh se-Indonesia.

 

Penyerahan KPD secara simbolis akan dilakukan Presiden Joko Widodo saat puncak peringatan HDI, hari ini. Hal tersebut dibarengi dengan serangkaian kegiatan lain, seperti pendistribusian sebanyak 7.070 alat bantu disabilitas berupa kursi roda, hearing aid, kruk, tongkat netra, kaki palsu, dan tangan palsu.

Ketua Umum Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Ghufron Sakaril menyambut baik berbagai upaya yang dilakukan pemerintah. Ia pun menegaskan bahwa pada dasarnya para penyandang disabilitas tidak ingin dibeda-bedakan.

“Saat ini bahkan ada beberapa teman-teman (penyandang disabilitas) yang ikut kontestasi di politik, seperti di DPR. Ada juga yang mencoba jadi bupati di daerah,” pungkasnya.  


Wadah berkumpul

Hari Disabilitas Internasional menjadi pengingat dan dimanfaatkan oleh mereka yang berkebutuhan khusus menunjukkan diri, unjuk kebolehan, menampilkan eksistensi mereka. Seorang penyandang disabilitas rungu wicara Aqilah Fidelma mengatakan, sesama penyandang disabilitas memerlukan wadah untuk berkumpul dan mengekspresikan diri.

“Senang dapat melihat sesama penyandang disabilitas berkumpul. Ada yang menari, menyanyi, dan bisa berkenalan dengan teman-teman baru,” kata Aqilah yang datang dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, saat ditemui.

 

Aqila yang merupakan siswi kelas VII SLB Tunarungu Santi Rama Cipete, Jakarta Selatan, itu turut menjajal alat bantu dengar yang ada di salah satu gerai pameran.

Acara Puncak Peringatan Hari Disabilitas Internasional berlangsung pada 2 dan 3 Desember 2018 di Mal Sumarecon Bekasi. Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Edi Suharto mengatakan ada beragam kegiatan yang dibuat Kemensos, mulai ekspose program, layanan inklusif, dan produk penyandang disabilitas yang menampilkan 70 gerai.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya