Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERSEDIAAN obat-obatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memberikan peningkatan kualitas dan harapan hidup. Bahkan obat-obatan lini 3 bisa memperpanjang harapan hidup ODHA hingga 24 tahun.
“Ada penelitian ilmiah, pengobatan yang lengkap, mudah, ditambah peran pendamping dan asesmen psikososial akan mampu menurunkan angka kematian pada ODHA,” ujar Prof dr Zubairi Djoerban SpPD, KHOM dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) saat dihubungi Media Indonesia terkait Hari HIV/AIDS Sedunia di Jakarta, kemarin.
Dulu, lanjutnya, sebelum ada obat antiretroviral (ARV), ODHA hanya mampu hidup 6-12 bulan (1 tahun). Begitu ada obat lini 1 bertambah sedikit, ada lini 2 mulai bertambah dari 5 tahun sampai 10 tahun. Muncul lagi lini 3 semakin panjang lagi bisa sampai 24 tahun.
Lebih lanjut, dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan obat-obatan bagi ODHA sudah digratiskan sejak 2004, tetapi secara bertahap.
“Ada beberapa tipe obat bagi ODHA. Pertama, lini 1, lalu lini 2, dan lini 3. Secara bertahap digratiskan bahkan sebelum ada BPJS, tetapi lebih terbantu dengan adanya BPJS awalnya masih bayar pemeriksaan dokter sekarang jadi tidak,” tambah Zubairi,
Namun, lanjutnya, digratiskannya obat bagi ODHA bukan berarti tidak ada kendala. Kadang kala obat-obatan tersebut tidak tersedia.
Kini masalah itu tidak terjadi lagi. Namun, Zubairi menegaskan masih banyak evaluasi kebijakan pemerintah terkait peningkatan kualitas hidup para ODHA, seperti tidak optimalnya peran pendamping.
Padahal, menurut Zubairi, peran pendamping bagi para ODHA sangatlah penting.
Pendamping dapat menjadi sahabat serta keluarga yang bisa memberi semangat dan pengingat ODHA dalam menjalankan pengobatan seumur hidup. “Minum obat seumur hidup itu tidak mudah. Kadang kala ada rasa bosan, malas. Apalagi, para ODHA biasanya menutupi statusnya dari keluarga. Maka pendampinglah yang sangat berperan,” katanya lagi.
Selain pendamping, imbuh Zubairi, peran asesmen psikososial dasar bagi para ODHA juga penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan semangat dalam menjalani pengobatan.
Minim pengetahuan
Sebagian besar masyarakat di Indonesia hingga saat ini masih memiliki pengetahuan rendah terhadap HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immuno deficiency syndrome)sehingga membuat stigma negatif terhadap ODHA. Respons diskriminasi terhadap ODHA mulai lingkungan terkecil, yaitu keluarga hingga skala masyarakat yang lebih luas.
Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar, pada 2018 hanya 1% masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang HIV secara keseluruhan. Menurut Zubairi, ketidakpahaman masyarakat terhadap proses penularan HIV/AIDS itulah penyebab munculnya stigma.
Secara terpisah, Direktur Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Indonesia, Michiko Miyamoto, mengatakan tempat kerja diyakini merupakan salah satu kunci dari pencegahan penyebarluasan wabah, termasuk HIV/AIDS. “Tempat kerja menjadi tempat yang dapat memberikan informasi, dukungan, dan bantuan perawatan,” katanya dalam siaran pers Jumat (1/12). (Ant/X-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved