Melihat Kematian agar Menghargai Keberagaman

(Des/M-4)
01/12/2018 04:20
Melihat Kematian agar Menghargai Keberagaman
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

Toetik Koesbardiati, perempuan asal Surabaya yang merupakan dosen dan menjadi penggagas serta kepala pengelola dari Museum Kematian. Museum ini terlahir dan digagas dikalangan Universitas Airlangga, dan sudah berdiri dari 2005. Awalnya, museum ini hanya berisikan barang-barang biasa dan Toetik memikirkan bagaimana agar para mahasiswa mau untuk mengunjungi museum ini dan tidak bosen dengan konsep museum.

“Saya adalah dosen antropologi yang berbicara tentang kultur dan fisik manusia. Jadi kita mengembangkan itu dan karena saya juga berkecimpung di dunia antropologi forensik. Jadi kematian menjadi teman kita. Akhirnya kita punya ide bagaimana kalau kita mengembangkan kematian kemudian juga dari aspek kultur dan juga dari aspek biologis,” ungkap Toetik.

Toetik mengatakan tidak ingin membuat museum yang hanya berisi barang dengan keterangan dan orang hanya bisa membacanya terus selesai. Ia lebih memainkan infografis mengenai semua pengetahuan di antropologi yang ia pasang di museum kematian. Misalnya saja, museum ini menmperlihatkan mengenai ritual kematian di Tanah Toraja dan lainnya.

Selain ritual kematian di Indonesia, di museum ini pun terdapat ritual kematian dari berbagai negara seperti Cile dan lain sebagainya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa ritual kematin rupanya bisa terdapat dimana saja. Toetik juga menyampaikan hal yang ia inginkan dari para pengujung setelah berkunjung ke museum kematian. “Yang pertama itu adalah mereka menghargai keberagaman kita, itu memang tujuan yang pertama.” (Des/M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya