Saat Anak Milenial Belajar Jurnalistik

(Dede Susianti/H-3)
30/11/2018 07:30
Saat Anak Milenial Belajar Jurnalistik
(MI/DEDE SUSIANTI)

"UNTUK jadi sebuah foto jurnalistik, kalau sudah kita dapat momennya, manualkah atau otomatis? Kalau manual, bagaimana agar tetap fokus atau tidak blur?" tanya Nasya Kamila.

Belum lama Nasya menutup mulutnya, tiba-tiba ada suara lain yang muncul. "Bagaimana caranya dapat objek? Apakah ada tanda- tanda tertentu agar tidak miss moment?" sambung Rofy.

Pertanyaan-pertanyaan itu datang secara beruntun ketika Adam Dwi, Fotografer Harian Umum Media Indonesia, berada dalam acara Youth Journalism kepada 600 siswa-siswi Bogor Centre School (Borcess) Ashokal Hajar (Boash), di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/11) sore.

Kepada mereka, Adam menjelaskan, ada tiga jenis foto jurnalistik, yakni spot news (sebuah foto yang diambil tanpa perencanaan), general news (foto dengan jadwal seperti foto acara) dan esai (foto yang bercerita).

Untuk sebuah spot news, ia menyarankan agar pemotret siap selalu dan tidak menunggu momen khusus. Sementara itu, untuk general news, pemotret disarankan untuk mencari keunikan dan kelebihan narasumber.

Sama halnya dengan tulisan, tegas Adam, berita foto juga harus tetap mengandung unsur 5W dan 1H (what, why, who, when, where, dan how). "Sebelum meliput, banyak membaca, kenal isu terbaru, dan kenal tokoh yang dituju. "Sehingga momen pun terbaca," paparnya.

Pengenalan alat memotret juga hal penting karena saat peristiwa terjadi, tidak perlu lagi berpikir teknis. "Sering latihan dengan kamera. Apa pun kameranya tidak terlalu penting. Saya suka pakai ponsel. Maksimalkan alat yang ada. Biasanya dengan peralatan yang minim dan alat biasa, malah kreativitas kita termotivasi," jelas Adam.

Youth Journalism ialah salah satu rangkaian kegiatan Media Group (Metro TV, Media Indonesia, dan Medcom), dalam rangka ulang tahun Metro TV yang ke-18, pada 25 November lalu. Workshop di Borcess menutup rangkaian acara Youth Journalism yang telah dilakukan di lima titik di Jakarta.

Maulanny Pratiwi, Head Section Media di Metro TV, mengatakan, kegiatan tersebut sudah menjadi kegiatan rutin. Hanya, sasarannya berbeda. Kalau sebelumnya pada mahasiswa, tahun ini menyasar SMP dan SMA. "Saat ini, di tingkat sekolah menengah pun mulai berkembang dengan adanya jurusan jurnalistik dan broadcast. Didukung juga dengan era milenial, kita ingin merangkul kaum muda," ungkapnya.

Kepala Sekolah Borcess Arvianto mengatakan bahwa pihaknya ingin anak-anak, generasi yang lahir dari Borcess, berkarakter. Termasuk jebolan Jurusan Broadcast Borcess bisa sukses di masa mendatang dengan penuh karakter.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya