Orangtua Hambat Edukasi Kesehatan Reproduksi

Putri Anisa Yuliani
30/11/2018 07:00
Orangtua Hambat Edukasi Kesehatan Reproduksi
(Ist)

EDUKASI tentang kesehatan reproduksi mendapat respons positif dari para remaja, tetapi tidak dari para orangtua. Sebagian besar orangtua menolak anak mereka mendapat edukasi tentang kesehatan reproduksi karena adanya kesalahan persepsi.

Menurut Country Representative Rutgers WPF Indonesia, Amalah Ramlah, banyak orangtua menganggap pendidikan tentang kesehatan reproduksi hanya akan membawa dampak negatif, antara lain, mengajarkan anak untuk berhubungan seksual serta mendorong penggunaan kontrasepsi. Padahal, edukasi kesehatan reproduksi lebih luas daripada itu.

"Ini sangat banyak kami temukan di daerah. Kalau dari sisi remaja justru sangat terbuka karena memang mereka membutuhkan," kata Amalah dalam diskusi Kampanye #AkuDewasa yang digelar Sensitif Vivo di Jakarta, kemarin.

Hal itulah, lanjutnya, yang mengakibatkan kesehatan reproduksi hingga kini belum menjadi mata pelajaran resmi yang masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

Ia menjelaskan, edukasi kesehatan reproduksi justru tidak membahas banyak dan detail mengenai hubungan seksual. Menurutnya, penekanan pendidikan kesehatan reproduksi ada pada pengenalan anatomi tubuh, khususnya alat kelamin, perubahan yang terjadi saat masa pubertas, psikologi remaja, hingga perencanaan masa depan.

Meski sekarang objek mengenai pubertas oleh pemerintah telah dimasukkan dalam pelajaran, belum ada penjelasan secara detail mengenai sikap yang harus dilakukan para remaja saat mengetahui ada perubahan dalam diri mereka. Dengan demikian, pengetahuan fisik maupun psikologis tentang kesehatan reproduksi yang diberikan masih minim.

"Edukasi kesehatan reproduksi juga membuat bagaimana anak-anak bisa memahami tentang dirinya agar siap dengan perubahan yang terjadi kelak saat pubertas. Jangan sampai malah mereka melakukan kesalahan karena tidak mendapat akses edukasi yang tepat," ucapnya.

Menurut Amalah, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bahkan bisa diberikan sejak usia anak balita dengan memperkenalkan bagian-bagian tubuh termasuk alat kelamin beserta fungsinya. Namun, lagi-lagi sudut pandang orangtua saat ini masih menjadi penghambat komunikasi orangtua dengan anaknya mengenai kesehatan reproduksi.

Respons positif

Kampanye #AkuDewasa di SMA, Sensitive Vivo mengajak para siswa untuk mendapatkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi serta menyampaikan pendapat maupun pertanyaan mengenai hal yang belum pernah diajarkan. Dari kampanye yang dilakukan pada 500 pelajar SMA se-Jabodetabek itu, menurut Marketing Sensitif Vivo, Dicky Cipta Pradana, respons para pelajar sangat bagus.

"Banyak pertanyaan tidak terduga yang diajukan dalam sesi pertanyaan anonim. Hal itu menunjukkan tingkat keingintahuan remaja sangat tinggi. Mereka ingin belajar sekaligus merefleksikan sikap apa yang harus diambil saat menghadapi kondisi tertentu," ujarnya. (H-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya