Kepala BNPT: Generasi Milenial Rentan Terpapar Radikalisme

Rahmatul Fajri
29/11/2018 16:03
Kepala BNPT: Generasi Milenial Rentan Terpapar Radikalisme
(MI/ Rommy Pujianto)

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan generasi milenial sangat rentan terkena radikalisme dan terorisme.

"Generasi muda ini rentan menjadi korban brainwash. Nah, ini hubungannya bagaimana kita menjaga eksistensi NKRI, karena mereka inilah yang menjadi generasi penerus," kata Suhardi pada konferensi pers Survei Efektivitas Kearifan Lokal dalam Menangkal Radikalisme di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, Kamis (29/11).

Baca juga: Mekopolhukam Dorong Mayarakat Awasi Kegiatan Radikalisme

Maka dari itu, Suhardi mengatakan jika generasi milenial tidak diberi perhatian dengan baik, maka kelangsungan negara dan kesatuan bisa terancam seiring menyebarnya paham-paham radikal.

Suhardi optimistis kearifan lokal dapat menangkal paham radikal di era milenial. Survei yang dilakukannya menunjukkan kearifan lokal efektif menangkal penyebaran paham radikal yakni 63,60% responden. Meskipun demikian, Suhardi menegaskan hal ini bukan hanya tugas BNPT semata, melainkan harus menjadi kerja bersama dengan seluruh pihak agar menjadi sebuah gerakan nasional menanggulangi paham-paham radikal.

"Saya bilang ini tidak bisa kerja BNPT saja. Ini gerakan nasional dan semuanya terlibat. Kita tidak boleh pesimis dengan angka survei tersebut (60%). Dari situ kita bisa melihat ada kepercayaan bahwa kearifan lokal bisa menangkal paham radikal yang bertebaran di media sosial," kata Suhardi.

Suhardi mengatakan saat ini BNPT dalam mencegah menyebarnya paham radikal yakni dengan memperbanyak pesan positif dan antiradikal. Dari segi kemasannya pun, Suhardi mengatakan butuh upaya yang dekat dengan generasi milenial.

"Kita sudah memilih 780 duta damai dari BNPT yang dari kalangan milenial. Kita bangun kedekatan dengan pesan-pesan antiradikal yang dikemas dengan bahasa yang menarik dan yang penting dekat dengan mereka juga," tandas Suhardi.

Langkah ini menurut Suhardi agar generasi milenial mempunyai perwakilan yang menyuarakan antiradikal, sehingga pesan yang disampaikan bisa diterima oleh mereka.

"Kalau tidak dari mereka, ya tidak mau. Apalagi mencari konten kearifan lokal di media sosial atau internet, mereka pasti malas," kata Suhardi. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya