Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAGAM aplikasi sudah tersedia untuk menunjang pendidikan anak. Ketersediaan itu membuat pendidikan untuk anak bisa dikatakan sangat mudah didapatkan.
Salah satu cara yang paling ampuh untuk menunjang pendidikan anak-anak, apalagi yang masih memasuki golden age ialah melalui metode permainan atau gim. Hal itulah yang dilakukan salah satu perusahaan yang beroperasi di Salatiga, Jawa Timur, yang bernama Educa Studio.
Andi Taru Nugroho Nur Wismono mulai menapaki karier dibidang start-up bersama dengan sang istri, Idawati, pada 2011. Pada saat itu, pria yang biasa disapa Andi ini pun mulai meluncurkan gim pertama mereka, yaitu Marbel yang merupakan singkatan dari ‘mari belajar sambil bermain’. Tak disangka, gim yang Andi buat justru diminati masyarakat Indonesia dan Marbel pun menjadi brand andalan Educa Studio sampai saat ini.
Melihat kesuksesan Educa Studio, Andi pun rupanya sangat berpegang teguh pada visi yang ia buat demi masyarakat Indonesia. “Visi Educa Studio adalah memaksimalkan teknologi untuk menghasilkan produk yang bermanfaat untuk anak-anak dan masyarakat Indonesia sehingga akses pendidikan menjadi jauh lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah.” ungkap Andi saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (20/11).
Andi melihat adanya permasalahan dalam bidang pendidikan, khususnya untuk anak-anak. Ia melihat bahwa saat ini memasuki era digitalisasi seharusnya konten pendidikan bisa lebih mudah diakses, lebih cepat, dan lebih murah.
Ia pun ingin menjadikan Educa Studio sebagai media interaktif, ia akan membuat pembelajaran yang tidak menggurui sehingga belajar akan lebih menyenangkan terutama untuk anak-anak.
Tidak mengherankan dengan sistem yang ia bangun, yaitu belajar yang lebih menyenangkan melalui gim, saat ini total sudah mencapai lebih dari 40 juta pengguna yang mengunduh Educa Studio dari berbagai sumber marketplace dan application store. Hingga saat ini, Andi sudah menghasilkan lebih dari 300 produk aplikasi edukasi yang tersedia di Educa Studio dan Keong Games.
Keberhasilan dari Educa Studio pun merupakan hasil jerih payah yang dilalui Andi dan istri, yang awalnya hanya menjalankan Educa Studio. Namun, saat ini mereka sudah memiliki karyawan sebanyak 10 orang. Para karyawan itu pun mengerjakan bidang game designer, 2D & 3D artwork, animasi, audio engineer, developer, tester, dan publisher.
Membicarakan mengenai aplikasi gim, pasti ada banyak kompetitor yang juga menjalankan hal yang sama. Untuk hal itu, Andi mengatakan, banyak kompetitor yang hanya mencontoh dan mengekor Educa Studio dan ia juga membagikan bahwa visi dan misi yang kuat dan harus terus dijalankan merupakan hal yang ia lakukan untuk terus bertahan menghadapi para kompetitor.
“Produk Educa Studio dibuat berdasarkan desain produk yang sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Kami menerapkan design thinking dalam setiap perancangan juga melibatkan end user sebagai acuan. Jadi, inilah kelebihan kami,” ungkap pria yang tinggal di Salatiga itu.
Andi pun mengungkapkan bahwa Educa Studi akan terus berkomitmen dan berkontribusi terhadap anak-anak dan pendidikan di Indonesia melalui teknologi dan karya-karya yang ia buat.
Ia berharap bisa terus berkarya, membuat produk yang semakin bagus, dan bisa memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat Indonesia. Andi juga ingin agar Educa Studio semakin besar tanpa harus mengubah visi dan misi awal, tetapi bisa memiliki visi misi yang berkembang. Andi juga berharap bisa semakin banyak bekerja sama dengan berbagai pihak baik itu pemerintah, NGO, marketplace, maupun masyarakat Indonesia.
Perjalanan hidup
Keberhasilan Andi bersama dengan Educa Studio pun sebenarnya diawali dengan kegemarannya dalam dunia musik. Sejak 2002 hingga 2006, Andi sering ikut berpartisipasi dalam kegiatan festival band dan saat itu ia sebagai pemain gitar sering kali mendapatkan banyak prestasi sebagai pemain gitar terbaik.
Kegemaran Andi dalam bidang musik harus kandas saat ia harus memasuki perguruan tinggi. Pasalnya, orangtua Andi melarangnya bermusik dan meminta Andi untuk mengambil jurusan IT di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
“Dulu sih orangtua yang nyuruh saya ke IT, saya enggak paham sama sekali dunia IT awalnya dan saya enggak boleh main gitar lagi,” ungkap Andi sembari tertawa.
Tak disangka, Andi yang menuruti kemauan orangtua dan meninggalkan dunia musik bisa sukses dengan Educa Studio. Andi menyadari bahwa ia patuh terhadap permintaan orangtuanya dan ternyata ia dibukakan jalan rezeki yang melimpah. Ini merupakan salah satu hal yang luar biasa bagi Andi dan ia pun mendapat banyak pelajaran dari kedua orangtuanya.
Andi juga membagikan bahwa pilihannya untuk menjalani start-up. “Start-up selalu bicara tentang growth. Nah, mindset tentang growth ini penting sekali untuk membangun bisnis dan perusahaan. Growth yang kecil, tetapi sustain juga baik, tetapi akan lebih baik lagi kalau bisa growth dalam waktu singkat dan terus sustain. Scale up!,” ungkapnya.
Andi menyadari bahwa dalam menjalankan start-up, ia akan menempuh banyak tantangan mulai kompetitor yang saat ini bukan hanya dalam negeri, melainkan juga seluruh platform secara global bisa bersaing di Indonesia dan Andi akan terus berjuang untuk terus bisa mengembangkan diri dalam menjalankan Educa Studio bagi pendidikan dna anak-anak di Indonesia. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved