Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ERA 4.0 sudah seharusnya direspons oleh pendidikan tinggi di Tanah Air dengan inovasi dan konektivitas ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak tertinggal dari negara lain.
Dua poin penting tersebut dikemukakan oleh Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir dalam sambutannya seusai meresmikan Laboratorium Konektivitas bantuan Honeywell kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kampus Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (28/11).
Di depan sivitas akademika UGM serta perwakilan dari ITB, UI, Microsoft Indonesia dan PT Pertamina, serta PT Honeywell, M Nasir menjelaskan sebuah negara tidak akan menjadi pemenang kompetisi global saat ini jika hanya dengan mengandalkan melimpahnya sumber daya alam dan jumlah penduduk.
Hal itu juga dibuktikan oleh negara lain yang perguruan tingginya memiliki kegiatan inovasi riset yang baik dan terkoneksi sehingga dalam menjalan kegiatan apapun termasuk ekonomi bisa berjalan secara efisien, efektif dan kompetetif.
Menurut Menristekdikti, memasuki era 4.0 yang ditandai dengan teknologi berbasis internet dan berbasis big data I donesia sebenarnya diuntungkan dengan adanya bonus demografi yang akan mengantarkan pada 2035 sebanyak 52% warga negara merupakan usia produktif.
"Kesempatan ini harus kita manfaatkan untuk memenangkan persaingan global. Perguruan tinggi sebagai institusi yang menghasilkan tenaga-tenaga profesional dituntut untuk bisa menjawab tantangan tersebut," ujarnya.
Nasir menambahkan, dunia perguruan tinggi di Tanah Air yang pada umumnya masih asyik dengan dunianya sendiri sehingga kolaborasi yang baik belum dilakukan dengan industri sebagai user lulusannya maupun sebagai pihak yang berkontribusi untuk memajukan perguruan tinggi itu sendiri.
Di pihak lain, Menteri Nasir, juga penyinggung banyak perusahaan di Indonesia yang seakan- akan tidak tahu dari mana mereka memperoleh tenaga yang profesional yang dibutuhkannya.
Pada kesempatan itu Nasir juga mengakui masih minimnya dana riset di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain di Asia.
Disebutkan, anggaran riset pada 2017 secara keseluruhan (dari berbagai departemen dan swasta) sebesar Rp24,9 triliun. Sebagian besar berasal dari pemerintah dan sekitar Rp5,1 triliun dari swasta.
Anggaran dari Kemenristek Dikti sendiri hanya Rp 1,7 triliun. Secara persentase peran pemerintah sebesar 84%. Adanya tren masih kecilnya peran swasta di bidang riset ini juga menjadi kritik Natsir.
"Bandingkan dengan Malaysia di mana persentase peran swasta sebesar 80% dan pemerintah 20%. Belum lagi persyaratan administrasi riset di Indonesia juga dirasakan menyulitkan peneliti. Ada yang bilang peneliti waktunya habis untuk melengkapi persyaratan administrasi keuangan bantuan dana riset daripada mendalami penelitiannya itu sendiri," ujarnya disambut tawa oleh peserta yang hadir di gedung pusat Fakultas Teknik UGM itu.
Namun demikian, Menteri Nasir optimistis pendidikan tinggi di Indonesia akan menjadi lebih baik lagi dan bisa kompetetif dengan negara lain. Hal itu salah satunya dibuktikan dengan jumlah riset yang dihasilkan pada 2017 sebanyak 24.000 hasil penelitian.
"Pada 2014 PT di Indonesia hanya menghasilkan 6.000 hasil penelitian dan Malaysia sebanyak 28.000 penelitian. Pada 2017 menghasilkan riset sebanhak 27.145. Artinya kita bisa mengejar dalam kurun waktu 3 tahun," katanya.
Nasir menyarankan agar PT di Indonesia juga berani berkolaborasi dengan kampus di luar negeri yang sudah mapan. Adapun kampus-kampus di dalam negeri yang masih perlu banyak pembinaan, Menteri Nasir berjanji juga akan mengoneksikan dengan kampus yang sudah mapan, termasuk penggunaan fasilitasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof Nizam PhD, mengapresiasi Honeywell yang telah berbagi teknologi dengan UGM. Lab ini dibangun sebagai lab yang saling terhubung dengan Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung.
"Saling terhubung adalah saka guru 41R. Diharapkan dari kelompok ini akan munvul rancangan 41R yang membumi sesuai denhan sifat bangsa Indonesia yang mengutamakan kemanfaatan dan kesejahteraan umum di atas sekadar capaian angka efisiensi dan produktivitas," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Honeywell Indonesia, Roy Kosasih, menambahkan, pihaknya memiliki pengalaman global yang teruji dalam menghubungkan beragam produk dengan perangkat lunak, agar solusi terhubung.
"Teknologi termutakhir inilah yang kami persembahkan kepada Indonesia melalui ketiga perguruan tinggi ini agar Indonesia dapat memenuhi dan meraih aspirasi serta memenuhi potensinya." (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved