Sanitasi masih Jadi Problem Mendasar

(Put/H-3)
28/11/2018 07:40
Sanitasi masih Jadi Problem Mendasar
(MI/ATET DWI PRAMADIA)

INDONESIA mempunyai pekerjaan cukup mendasar dalam layanan air minum dan sanitasi. Padahal, Indonesia sudah masuk G-20, atau negara dengan perekonomian besar di dunia.

Hal itu menjadi salah satu refleksi bersama saat perayaan Hari Toilet Sedunia yang diperingati setiap 19 November.

"Buruknya akses air minum dan sanitasi menimbulkan kerugian yang cukup besar, dari sisi kesehatan dan kualitas hidup," kata Regional Manager Jakarta dan Tangerang The USAID Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene, Penyehatan Lingkungan untuk Semua (Iuwash PLUS) Wouter Sahanaya saat berkunjung ke Desa Kayu Bongkok, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, kemarin.

Desa Kayu Bongkok merupakan salah satu potret buram kondisi sanitasi di Indonesia. Di permukiman padat yang mayoritas penduduknya warga tidak mampu itu masih ditemukan praktik buang air besar (BAB) sembarangan atau open defecation.

Survei dasar akses air minum dan sanitasi (wash) yang dilakukan USAID Iuwash PLUS 2018 menemukan baru 50 (KK) di RW 1 dan RW 2 sudah mempunyai akses ke jamban dengan tangki septik kedap. Lalu, sebanyak 162 KK mempunyai jamban tanpa tangki septik kedap.

Sisanya, sekitar 308 KK atau 59%-nya mempunyai jamban tanpa tempat penampungan tinja, menggunakan sarana MCK umum, atau buang air besar di sungai. Biaya membangun jamban dan tangki septik secara swadaya cukup mahal sebesar Rp4 juta per unit.

Fakta lainnya, menurut survei itu, sekitar 495 KK di RW 1 dan 2, Desa Kayu Bongkok mengandalkan air dari sumur gali dan sungai sebagai sumber air. Namun, air dari sumur dan sungai tersebut keruh sehingga hanya bisa digunakan untuk mencuci. Untuk konsumsi air minum, warga biasanya membeli air isi ulang.

Untuk itulah, kemitraan CSR Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), dengan dukungan USAID berencana membangun sambungan rumah air minum melalui program Saluran Penyediaan Air Minum (SPAM) Komunal Pamsimas dan jamban sehat keluarga.

Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang Didin Samsudin mengatakan anggaran menjadi penyebab sulitnya mengentaskan permasalahan sanitasi di wilayahnya itu. Karena itu, ia menyambut baik bantuan kemitraan tersebut.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya