Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMANYA Untung. Pria berusia 45 tahun itu menyandang cacat fisik sejak lahir, tidak memiliki tangan. Aktivitasnya sehari-hari mengandalkan kaki, termasuk untuk makan dan berpakaian.
Namun, suami Sumrati itu tak pernah menyesali kondisinya. Ia justru memiliki elan hidup menyala. Bahkan, jiwa raganya total ia abdikan bagi pendidikan.
"Bagi saya, hidup adalah mengabdi. Apa pun yang kita bisa, lakukan dengan niat mengabdi," ujar Untung ketika ditemui di rumahnya yang sederhana di Desa Batang Batang Dajah, Kecamatan Batang Batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur, baru-baru ini.
Saat ini, Untung menjadi guru honorer di Madrasah Ibtidaiah (MI) Miftahul Ulum, madrasah tempatnya menimba ilmu tingkat dasar pada masa kecil dulu.
Status honorer di madrasah dengan jumlah siswa 132 orang itu telah ia lakoni selama 23 tahun. Gajinya Rp300 ribu per bulan.
Untung mengajar dari kelas III sampai kelas VI untuk mata pelajaran akidah akhlak, Alquran, dan hadis.
Setiap hari, ia berjalan kaki dari rumah ke Miftahul Ulum, yang jauhnya sekitar 1 kilometer.
Media Indonesia sempat melongok Untung ketika mengajar di kelas V pada Selasa (24/3).
Ayah dua anak itu sedang menulis ayat Alquran dan terjemahannya di papan tulis.
Ia lalu meminta siswa membacanya.
Setelah usai, Untung menjelaskan makna ayat tersebut.
Suasana di kelas tampak aktif dan penuh keakraban.
Sepulang mengajar, Untung, yang tiga bulan lalu diangkat sebagai wakil kepala sekolah, beternak ayam kampung dan burung love bird serta membuat sangkar burung.
Kegiatan itu sejujurnya ia akui bertujuan menutupi kebutuhan rumah tangga.
Apalagi, anak sulungnya, Faridatul Jannah, saat ini sudah sekolah di SMA Trate Sumenep.
Si bungsu, Fatimatuzzahro, kelas II di madrasah tempatnya mengajar.
Ketika malam menjelang, Untung juga tidak langsung beristirahat.
Ia masih mengajar anak-anak mengaji di musala yang berada di depan rumahnya.
Untung mengaku, mendidik ialah wujud kecintaannya.
Karena itu, ia tidak berharap apa pun dari profesinya sebagai guru.
Malah, ia ingin menyumbangkan apa yang dimiliki untuk dunia pendidikan.
"Meski Untung lulusan SMA penyetaraan, cara mengajarnya tidak kalah dengan guru yang sarjana," kata Kepala MI Miftahul Ulum, Syarani.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved