Pemerintah Minta Dukungan Industri untuk Pengenaan Bea Cukai Plastik

Putri Anisa Yuliani
27/11/2018 19:48
Pemerintah Minta Dukungan Industri untuk Pengenaan Bea Cukai Plastik
(ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

PEMERINTAH mendorong industri untuk ikut berperan dalam pengurangan sampah plastik melalui dukungan terhadap kebijakan pemerintah soal pengenaan bea cukai terhadap impor bahan plastik. Masalah sampah plastik baru-baru ini memang kian hangat dibicarakan terutama setelah dari dalam perut bangkai seekor ikan paus ditemukan 6kg sampah plastik.

Diduga sampah plastik tersebut yang menjadi penyebab matinya paus tersebut. Banyaknya sampah plastik di lautan menurut Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar disebabkan banyaknya sampah plastik yang tidak terolah serta dibuang sembarangan oleh masyarakat.

Jika penduduk dunia termasuk Indonesia tidak segera mengurangi pemakaian plastik ditambah dengan masih buruknya pengelolaan sampah, maka ia pun memprediksikan akan semakin banyak hewan yang terancam mati akibat sampah plastik. Tak hanya itu, sampah plastik yang bisa bertahan hingga ribuan tahun akan mencemari tanah beserta kandungan air dan unsur hara di dalamnya yang dapat berdampak buruk pada hasil pertanian.

"Pengurangan sampah plastik bisa dua macam antara pelarangan total atau pembebanan keuangan. Dengan cara kedua ini lewat pengenaan bea cukai kita harap bisa cukup efektif. Industri kita mintalah supaya berperan," terangnya saar dihubungi Media Indonesia, Selasa (27/11).

Ia mengungkapkan pembebanan keuangan sesungguhnya bisa menjadi cara yang efektif. Sebab, masyarakat akan lebih tumbuh kesadaran serta pemahamannya bahwa plastik sekali pakai akan sangat merugikan bagi lingkungan.

Sementara untuk pelarangan total belum tentu bisa efektif karena berupa pemaksaan. Kebijakan pengenaan Bea cukai terhadap impor plastik menurut Novrizal terinspirasi dari kebijakan pengenaan biaya pada pemakaian plastik di swalayan yang pernah populer beberapa waktu lalu.

"Dari situ masyarakat bersikap positif terhadap kebijakan ini makanya kami ingin diteruskan," terangnya.

Siap atau tidak siap, industri menurutnya harus bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan. Terlebih lagi Indonesia secara moral sebagai bagian dari dunia juga harus ikut kebijakan global yang saat ini juga menyoroti keberadaan sampah terutama sampah plastik.

"Kita punya tanggung jawab juga. Dunia saat ini sedang menyoroti ini. Maka dari itu semua pihak diharapkan bisa berperan," tegasnya.(put)

KLHK Minta Industri Berperan Kurangi Sampah Plastik

Pemerintah mendorong industri untuk ikut berperan dalam pengurangan sampah plastik melalui dukungan terhadap kebijakan pemerintah soal pengenaan bea cukai terhadap impor bahan plastik. Masalah sampah plastik baru-baru ini memang kian hangat dibicarakan terutama setelah dari dalam perut bangkai seekor ikan paus ditemukan 6kg sampah plastik.

Diduga sampah plastik tersebut yang menjadi penyebab matinya paus tersebut. Banyaknya sampah plastik di lautan menurut Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar disebabkan banyaknya sampah plastik yang tidak terolah serta dibuang sembarangan oleh masyarakat.

Jika penduduk dunia termasuk Indonesia tidak segera mengurangi pemakaian plastik ditambah dengan masih buruknya pengelolaan sampah, maka ia pun memprediksikan akan semakin banyak hewan yang terancam mati akibat sampah plastik. Tak hanya itu, sampah plastik yang bisa bertahan hingga ribuan tahun akan mencemari tanah beserta kandungan air dan unsur hara di dalamnya yang dapat berdampak buruk pada hasil pertanian.

"Pengurangan sampah plastik bisa dua macam antara pelarangan total atau pembebanan keuangan. Dengan cara kedua ini lewat pengenaan bea cukai kita harap bisa cukup efektif. Industri kita mintalah supaya berperan," terangnya saar dihubungi Media Indonesia, Selasa (27/11).

Ia mengungkapkan pembebanan keuangan sesungguhnya bisa menjadi cara yang efektif. Sebab, masyarakat akan lebih tumbuh kesadaran serta pemahamannya bahwa plastik sekali pakai akan sangat merugikan bagi lingkungan.

Sementara untuk pelarangan total belum tentu bisa efektif karena berupa pemaksaan. Kebijakan pengenaan Bea cukai terhadap impor plastik menurut Novrizal terinspirasi dari kebijakan pengenaan biaya pada pemakaian plastik di swalayan yang pernah populer beberapa waktu lalu.

"Dari situ masyarakat bersikap positif terhadap kebijakan ini makanya kami ingin diteruskan," terangnya.

Siap atau tidak siap, industri menurutnya harus bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan. Terlebih lagi Indonesia secara moral sebagai bagian dari dunia juga harus ikut kebijakan global yang saat ini juga menyoroti keberadaan sampah terutama sampah plastik.

"Kita punya tanggung jawab juga. Dunia saat ini sedang menyoroti ini. Maka dari itu semua pihak diharapkan bisa berperan," tegasnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya