Guru Profesional Garda Terdepan Pendidikan

Syarief Oebaidillah
27/11/2018 04:00
Guru Profesional Garda Terdepan Pendidikan
(MI/indri yani )

BANYAK persoalan pendidikan yang bermuara pada pentingnya peran guru. Karena itulah, mulai tahun depan rencana aksi pendidikan diarahkan untuk menguatkan profesionalisme guru di Tanah Air.

"Upaya pemerataan dan peningkatan mutu guru dilakukan melalui pelatihan berdasarkan zona. Pada 2019 nanti kita fokus ke situ," kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Supriano, seusai Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di halaman Kantor Kemendikbud, Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, pelatihan itu akan melibatkan Kelompok Kerja Guru (KKG) di jenjang SD serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di jenjang SMP dan SMA sederajat.

Melalui sistem zonasi, imbuhnya, permasalahan pemerataan dan peningkatan mutu guru akan lebih mudah terpantau. Hingga kini sudah ada sekitar 2.578 zonasi yang telah dipetakan. Luasnya wilayah Indonesia menjadi satu tantangan tersendiri. "Karena Indonesia ini luar biasa luas, maka ada daerah tertentu yang membutuhkan pendampingan," sebut mantan Direktur Pembinaan SMP Dikdasmen Kemendikbud itu.

Pemerintah, sambungnya, menyadari tuntutan profesionalisme para pendidik itu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Guna mengoptimalkan pelatihan guru melalui KKG dan MGMP, pihaknya menyiapkan anggaran Rp840 miliar. Para guru di MGMP misalnya, dapat berdiskusi intensif setiap seminggu sekali. "Anggaran yang kami berikan itu dapat digunakan untuk keperluan konsumsi dan transport yang disesuaikan dengan berat medannya wilayah para guru."

Untuk mengukur kemampuan guru, pemerintah akan menggunakan hasil uji kompetensi guru (UKG). Sementara itu, untuk mengetahui kualitas guru masih mengacu pada pencapaian ujian nasional (UN) dan Program for International Student Assessment (PISA) para siswa.

PISA ialah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga tahunan untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. Supriano pun berharap peringkat PISA tahun ini membaik sebagai indikator peningkatan kualitas guru.

Skor PISA Indonesia pada 2015 berada di peringkat ke-64, tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Vietnam yang menempati peringkat ke-8.

Perluasan TIK

Peningkatan kualitas pembelajaran di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) juga mendapatkan atensi serius dari Kemendikbud untuk menyongsong era industri 4.0.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud Gogot Suharwoto menegaskan hal itu saat taklimat media tentang Pelaksanaan International Symposium on Open, Distance and E-Learning (ISODEL), kemarin.

"Kita memberikan bantuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada 864 sekolah di wilayah 3 T dan sekitarnya serta melatih guru-guru agar memahami teknologi di era industri 4.0 ini," kata Gogot.

Kemendikbud juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dalam penyediaan akses internet di sekolah-sekolah melalui program redesign Universal Service Obligation (USO) atau kewajiban layanan universal yang menyediakan akses internet. (H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya