Perguruan Tinggi Harus Antipasi Keganasan Era Industri 4.0

Puji Santoso
25/11/2018 10:18
Perguruan Tinggi Harus Antipasi Keganasan Era Industri 4.0
(MI/Puji Santoso)

MAHASISWA saat ini harus selalu terkoneksi dengan perkembangan dunia dengan tetap memegang nilai dan karakter yang baik. Tanpa bekal tersebut, dikahwatirkan mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi akan menjadi korban keganasan era industri 4.0 dan akan semakin tertinggal dibandingkan dengan kampus nasional maupun global lainnya.

Jika kondisi tersebut terjadi, cita-cita memberikan kontribusi untuk pembangunan eknonomi hanya akan menjadi cita-cita semata. Untuk menghindari skenario ini, Direktur Kepatuhan dan Human Capital Bank Mandiri, Agus Dwi Handaya, mengatakan bahwa tugas para dosen dan pendidik di perguruan tinggi saat ini memang akan menjadi jauh lebih sulit.

"Para dosen dan pengajar, selain harus memiliki dedikasi pengabdian yang tinggi, juga harus mampu menginterpretasikan berbagai perubahan dunia dalam proses pembelajaran. Metode pendidikan di kampus juga harus terus disesuaikan. Not just teach the curriculum of the past, but should teach curriculum of the future," ujarnya ketika menjadi pembicara utama sebagai keynote speaker dalam acara Dies Natalis ke 57 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara (FE USU) di aula kampus FEB USU di Padangbulan, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (24/11).

Agus yang juga alumni jurusan ilmu akuntansi FEB USU ini menilai orientasi mengajarkan 'What' dan 'How' saja sudah tidak cukup. Oleh karena itu, menurutnya harus diperluas dengan eksplorasi 'Why'. Bahkan, dengan kehadiran para millenials, 'Why' pun harus mulai diperdalam dengan istilah yang disebut degan 'care-why', sebuah kesadaran mengapa dan apa esensinya perguruan tinggi mempertanyakan 'Why',dan mengapa perguruan tinggi harus yakin atas jawaban 'Why' tersebut.

Menurut dia, hal ini merupakan salah satu cara pembelajaran bagi mahasiswa agar terbiasa berinterkasi dengan multicomplex nonlinear variable yang sering membingungkan dan tidak ada panduan jawabannya dalam text book konvensional.

Permasalahannya adalah, sambung dia, bagaimana kampus membangun sistem yang secara konsisten dan berkesinambungan mengkoneksikan dirinya dengan perkembangan yang terjadi, bahkan menginisiasi dan mempelopori terjadinya perubahan di dunia.

Stakeholder di luar kampus, baik alumni, pemerintah, korporasi memang juga diperlukan untuk mensupport pendanaan, investasi teknologi, akses ke pasar (market), dan informasi maupun sharing practical cases.

"Namun semua itu hanya bisa berjalan bila kampus memiliki idealisme dan komitmen kuat untuk menjalankan tradisi keilmuannya melalui aktivitas pembelajaran, pembaharuan, inovasi dan riset secara konsisten dan terus menerus dari berbagai sumber, termasuk melakukan kerjasama dengan berbagai kampus dan lembaga penelitian top global," jelas Agus.

Agus menjelaskan, bahwa dunia saat ini sudah memasuki revolusi industri 4.0 dengan tema-tema yang hot happening seperti internet of things, artficial intelegent, personalized services, sharing economy, big data, block chain, robotic dan berbagai isu terkini lainnya telah mempengaruhi gaya hidup sehari-hari manusia.

Bagi perusahaan korporasi, artficial intellegent dan robotic juga telah merubah pola penanganan pelanggan secara meluas, baik dalam hal memahami customer behavior, memetakan customer preference, menangani customer handling maupun men-deliver customer physical services.

Revolusi industri saat ini telah memasuki era 4.0 dengan tingkat customized dan personalized yang tinggi. Periode siklus inovasi juga semakin pendek, yang dulunya di tahun 1.700an memakan waktu 60 tahun, sekarang sudah terpangkas hanya menjadi 30 tahun. Perubahan tidak lagi mengikuti fase linear, tapi semakin unpredictable dengan trend yang eksponensial bahkan terkadang menimbulkan shock suprises.

"Jejaring ekonomi dan industri sudah sedemikan meluas dan terkoneksi dengan matriks yang semakin sulit dipahami dan diantisipasi. Distrupsi sudah terjadi dimana-mana menghadirkan kecepatan proses dan kualitas layanan yang tinggi yang memberikan solusi. Hal tersebut terjadi karena model bisnis yang dijalankan jauh berbeda dengan jaman konvensional," paparnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya