Bergandeng Tangan untuk Perubahan

Des/M-3)
24/11/2018 04:00
Bergandeng Tangan untuk Perubahan
(MI/PERMANA)

SKANDAR Slameth sempat terlibat konflik Ambon dan Maluku. Tidak ingin mengulang masa lalunya yang kelam, ia memutuskan melakukan perubahan.

Keterlibatan Iskandar dalam sejarah hitam konflik itu berawal saat ia berusia 14 tahun. Kala itu, rumahnya berada di daerah perbatasan antara umat beragama sehingga ia bisa melihat perang dimulai.

“Jadi, di rumah saya itu kita tuh dibatasi sama DAM. Jadi, sebelah daerah kami yang muslim, sebelah daerahnya lagi udah yang Kristen. Jadi, di sebelah itu udah mukul tiang listrik gitu, pas kita liat ke sebelah itu udah pakai ikat kepala merah, udah pakai panah bambu, bawa golok, pokoknya udah lengkap semua. Kita kan jadi ngeri liatnya, dan kita benar-benar enggak tahu apa yang akan terjadi,” ungkap Iskandar.

Kala itu, Iskandar dinilai sudah cukup umur memegang alat untuk perang. Apalagi Iskandar emosi setelah pergelangan kaki kakaknya terkena bom.

Pertemuannya dengan Ronald, di acara Young Ambassador for Piece pada 2006, membuka matanya.

“Ketika ada satu forum di workshop itu, kita bercerita tentang proses kita bagaimana kita sampai benar-benar benci sama orang Kristen dan Islam. Temen-temen Kristen juga begitu, kita terbuka semua, di mana kita menyerang, membunuh, itu cerita semua di situ. Saat orang-orang Kristen bercerita pun kita yang muslim mendengarkan, tanpa ada dendam tanpa ada marah,” ungkap Iskandar.

Masalah komunikasi menjadi inti penyebab perang. Di acara itu mereka membuat komitmen untuk tidak meluapkan amarah dan emosi mereka. Ronald, kata Iskandar, merupakan orang yang mampu memecah keheningan dan menyadarka mereka, serta mengingatkan mereka bersaudara.

Dalam forum tersebut, Iskandar banyak mendapatkan pelajaran penting bagi hidupnya. Ia sadar mereka ialah korban dari kepentingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan konflik ini. Kerugian lain yang dirasakan Iskandar ialah terbuangnya masa kecilnya.

Kini Iskandar pun banyak mengikuti orga­nisasi yang melibatkan perdamaian dan toleransi antarumat beragama. Namun, ia sering mendapatkan banyak pertanyaan dari orang tentang konflik di Ambon, serta apakah Ambon sudah aman.

Menanggapi hal itu, Iskandar sering sekali ingin tertawa dengan pertanyaan tersebut karena konflik yang sudah berjalan dari 2005 tersebut sudah tidak ada lagi.

“Kita punya luka yang sangat perih dan kita tidak ingin luka itu kembali terjadi. Kita belajar banyak dari konflik yang terjadi di Maluku dan kita semua orang di Maluku bergandeng tangan untuk menciptakan kedamaian di Maluku,” tutup Iskandar. (Des/M-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya