Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TUBERKOLOSIS (TB) tidak hanya berdampak secara psikologis bagi pasien karena harus berobat dengan jangka waktu pengobatan berbulan-bulan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri jenis mycobacterium tuberculosis itu juga mengakibatkan dampak sosial bagi penderitanya.
Salah satu pasien TB yang sudah sembuh Ully Ulwiyah, 31, mengatakan banyak rekannya sesama penderita TB dikeluarkan dari pekerjaan mereka ketika didiagnosis TB. Meski biaya pengobatan gratis, ujar Ully, pasien tetapmembutuhkan biaya untuk berobat ke fasilitas kesehatan.
"Biaya transportasinya dari mana kalau tidak bekerja? Itu bisa membuat pasien jadi tidak semangat berobat atau putus minum obat," terang Ully, di Jakarta, Kamis (22/11).
Baca juga: Terapi Baru TB Kebal Obat Diuji Klinis
Pada kesempatan terpisah, Menteri Kesehatan Nila F Moelek mengatakan alasan penanganan TB menjadi prioritas pemerintah. Selain penyakit tersebut mudah menular, terang Menkes, TB dekat dengan masalah sosial dan kemiskinan. Dikatakan Menkes, sebagian besar infeksi TB terjadi pada usia produktif antara 15-54 tahun.
Meskipun diagnosis dan pengobatan TB gratis, pasien TB harus mengeluarkan biaya transportasi, akomodasi, gizi dan kehilangan penghasilan karena ketidakmampuan untuk bekerja.
"Kita selalu berpikir kesehatan. Bagaimana menemukan pasien dan mengobati. Padahal masalah sosial untuk TB juga harus diperhatikan," ujar Menkes.
Menkes menuturkan lebih jauh stigma terhadap pasien TB masih ada di masyarakat sehingga pasien sering kali diberhentikan dari pekerjaannya. Selain itu, beban keuangan juga dapat menyebabkan pasien tidak mendapatkan diagnosis dan tidak memulai pengobatan. Bahkan dapat berhenti menjalani pengobatan. Kondisi tersebut berisiko pada penularan penyakit ke orang lain dan dapat berkembang menjadi TB yang resisten terhadap obat (multi drug resistant- MDR).
Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Miko Hananto memaparkan bahwa kasus TB banyak ditemukan pada kelompok masyarakat miskin. Rangkuman hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan prevalensi tertinggi TB pada profesi nelayan sebesar 0,9%, disusul tani dan buruh tani 0,6%, dan penduduk yang tidak bekerja 0,6%.
"Bisa dianalogikan masyarakat miskin yang menderita TB cukup banyak. Penularan TB rentan terjadi di lingkungan tempat hunian yang padat dan ventilasinya tidak bagus," terangnya.
Indonesia menjadi negara nomor tiga dengan kasus TB terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Data riskesdas 2018 menunjukan kasus baru TB sebesar 842.000 dan hanya 53% yang diobati dan dilaporkan (ternotifikasi). Sisanya belum diobati atau sudah diobati tapi tidak dilaporkan. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved