Besok, Pimpinan Sekolah Katolik Gelar Pertemuan di Jayapura

MICOM
22/11/2018 16:10
Besok, Pimpinan Sekolah Katolik Gelar Pertemuan di Jayapura
Presidium MNPK mengunjungi SMA YPPK Teruna Bakti, sehari sebelum mereka menggelar hari studi di Hotel Horison, Jayapura, yang dimulai ada Jumat, 23 November 2018.(Dok MNPK)

PARA pimpinan lembaga pendidikan Katolik dari seluruh Indonesia akan berkumpul pada 23-25 November 2018 di Jayapura, Papua untuk mengikuti hari studi yang fokus membicarakan tentang penguatan pendidikan karakter berbasis multikultural.

Pertemuan ini merupakan agenda dari Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), organisasi mitra Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang mengkordinasi yayasan-yayasan serta sekolah-sekolah Katolik.

Majelis Pendidikan Katolik Papua menjadi panitia pelaksana kegiatan ini, di bawah koordinasi ketua panitia pelaksana Silvester Lobya, yang juga Direktur Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Kota/Kabupaten Jayapura.

Dengan tema Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Multikultural Menuju Peradaban Kasih, hari studi ini dihadiri 250 peserta yang datang dari keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia.

Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium MNPK mengatakan, melalui tema ini MNPK mengafirmasi pentingnya dimensi multukultural dalam rangka penguatan pendidikan karakter.

“Tentu saja, MNPK mengakui bahwa pendidikan karakter berbasis multikultural sudah dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan Katolik,” katanya di Jayapura, Kamis (22/11).

Lebih lanjut kata dia, tema ini menegaskan dua hal yakni, tekad untuk mengambil bagian dan menyukseskan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang sudah dicanangkan pemerintah serta memberi corak yang jelas bagi penerapan PPK itu dalam lembaga pendidikan Katolik, yaitu sesuai konteks Indonesia dan dengan inspirasi dari iman Katolik, khususnya dari Ajaran Sosial Gereja.

Ia menambahkan, membahas pendidikan karakter juga sangatlah relevan dan kontektual di tengah situasi Indonesia saat ini yang masih saja digerogoti oleh intoleransi, kekerasan atas nama agama serta berkembangnya hoaks yang mengarah pada perpecahan.

“Institusi-instusi pendidikan justeru menjadi bagian dari masalah, sebagaimana ditunjukkan dalam survei-survei berbagai lembaga swadaya masyarakat, di mana sekolah dan kampus-kampus menjadi lahan berkembangnya radikalisme dan ekstrimisme,” tambahnya.

Ia mengatakan, melalui kegiatan hari studi ini, lembaga-lembaga pendidikan Katolik ingin memperkuat diri agar steril dari bahaya-bahaya itu serta terus berikhtiar mengambil bagian dalam menghidupkan nilai-nilai karakter bangsa, sebagaimana yang termaktub dalam Pancasila.

“Selama hari studi ini, kami akan menggali inspirasi-inspirasi dari kekayaan budaya dan tradisi, serta dari Ajaran Sosial Gereja sendiri tentang hal-hal yang perlu terus dikembangkan di sekolah Katolik serta bisa ditularkan kepada sesama anak bangsa demi menyukseskan misi kita bersama, yakni menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama yang aman dan damai,” katanya.

Silvester Lobya menambahkan, pembicaraan tentang pendidikan karakter dalam hari studi ini juga merupakan bagian dari keperihatinan atas ketimpangan yang cukup menguat dalam praktek pendidikan saat ini.

“Pendidikan kita lebih mengedepankan penguasaan aspek kognitif dengan tujuan meningkatkan mutu lulusan lewat capaian hasil ujian nasional atau lulus dengan nilai akademik yang memadai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sementara pendidikan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri anak bangsa semakin terpingirkan,” katanya.

Rapuhnya karakter dan budaya bangsa dalam kehidupan berbangsa, kata dia, bisa membawa kemunduran peradaban bangsa.
“Padahal, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara,” tegas Silvester.

Rangkaian acara hari studi akan dibuka secara resmi pada Jumat, 23 November dengan Misa yang dipimpin oleh Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, di mana hadir juga Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe dan Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano, MM untuk menyampaikan sambutan.

Hari kedua pada Sabtu, adalah seminar dan diskusi, dengan pembicara Rektor Universitas Cenderawasih, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT; Dosen Universitas Atma Jaya Jakarta : Dr. Clara R.P. Ajikusumo, MSC;  Dosen Universitas De La Salle Manado,  Pastor Dr.Revi Tumario Tanod PR; Dosen FIB Universitas Indonesia dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Pudentia MPSS; dan Dosen Program Magister Linguistik dan Terapan Bahasa Inggris Universitas Atmajaya Jakarta, Prof. Bambang Kaswanti Puroh.
Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendi diagendakan juga hadir pada Sabtu.

Sementara pada Minggu, peserta akan menggelar kunjungan ke perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, di mana akan disambut tarian perbatasan lalu kemudian menyaksikan pentas seni budaya Papua. Rangkaitan kegiatan akan kembali ditutup dengan Misa pada Minggu sore. (RO/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya