Desakan Cukai Plastik Menguat

(Dhk/DW/H-3)
22/11/2018 12:10
Desakan Cukai Plastik Menguat
(Antara)

TEMUAN 5,9 kilogram plastik di dalam perut bangkai paus sperma (Physeter macrocephalus) di Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (19/11), membuktikan ancaman sampah plastik itu nyata.

Puluhan ribu warganet pun berbondong-bondong meneken petisi daring penerbitan cukai plastik di laman Change.org. Petisi yang ditujukan kepada Presiden dan Menteri Keuangan itu meminta pemerintah serius mengendalikan plastik untuk mengurangi sampah plastik.

Hingga pukul 19.58 WIB, tadi malam, sudah 48.056 orang yang menandatangani petisi itu. Padahal, sorenya, baru 19 ribu orang yang menekennya.

"Kalau cukai plastik diterapkan, produksi dan konsumsi plastik bisa berkurang. Buktinya waktu dulu diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar, penggunaan kantong plastik di masyarakat berkurang hingga 55%," kata model dan presenter Nadia Mulya yang menginisiasi petisi itu enam bulan lalu.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sekitar 80% pencemaran laut berasal dari aktivitas manusia yang berbasis daratan, termasuk sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik.

Secara rinci, di dalam bangkai paus yang mati itu ditemukan sampah plastik keras (19 buah), botol plastik (4), kantong plastik (25), sandal jepit (2), tali rafia (3,26 kg), dan gelas plastik (115).

Marine Species Specialist WWF-Indonesia, Dwi Suprapti, menegaskan dampak sampah plastik bagi kehidupan biota laut amat merusak. Pasalnya plastik tidak mudah terurai. Butuh waktu ribuan tahun agar plastik bisa terurai.

Belum diketahui pasti penyebab kematian paus malang itu. Bangkai paus sperma itu telah dikubur di pesisir Desa Kapota, Selasa (20/11). Menteri LHK Siti Nurbaya memerintahkan agar paus malang itu diteliti. "Ada sekitar 6 kg sampah dalam perut paus itu. Itu cukup signifikan," kata Siti di Palembang, Sumsel.

Penelitian akan membuktikan asal sampah di perut paus itu. "Teorinya paus kan makan ubur-ubur. Karena sampah bening, dikira ubur-ubur, sampah itu dimakan juga."





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya