Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN transportasi berbasis aplikasi dalam jejaring (daring) belakangan meningkat. Apalagi setelah dua aplikasi Go-Jek dan Grab sukses di masyarakat. Namun, sebelum dua aplikasi itu berjalan, ide tersebut sudah dipikirkan Patrick.
Pada 2010, Patrick yang merupakan salah satu co-founder dari Tekno sudah memikirkan mengenai pembuatan aplikasi ojek daring ini. Kevin Jong menceritakan, kala itu Patrick memikirkan membuat aplikasi serupa, tapi orang tidak percaya akan idenya.
"Tahun 2010 waktu itu, ketika ia menceritakan ide itu ke orang-orang, enggak ada yang percaya. Terus sampai 2015 tiba-tiba ada Go-Jek kan, nah dia bilang wah ini ide gua nih dulu," ungkap Kevin saat ditemui Media Indonesia di kantornya, Kamis (15/11). Kevin tidak sendiri, ia didampingi Robert yang juga CEO dan co-founder startup ini.
Robert menambahkan mereka ingin membuat aplikasi serupa bernama Teknojek. Namun, sasaran mereka bukan Jakarta, melainkan daerah, sehingga pasarnya berbeda. Guna mengetahui daerah mana yang membutuhkan aplikasi serupa, mereka pun melakukan penelitian. Mereka mencari respons masyarakat di beberapa daerah di Jawa, Sumatra, dan Jakarta. "Antusias yang paling tinggi di Lampung. Karena itu, dipilihlah Lampung," ujar Kevin.
Secara bertahap mereka mulai mempersiapkan startup itu. Ternyata benar saja, Tekno lebih berkembang di daerah-daerah kecil. Di samping membedakan target pasar, Tekno ingin menjadi jembatan bagi masyarakat perdesaan agar lebih modern, maju, efisien, dan produktif.
"Kita berkembang jutru di daerah-daerah yang bukan di kota besar karena kalau head to head kan susah, ya. Nah kita berkembang ke kota-kota kecil karena konsep ekonomi berbagi tadi dan kita membangun daerah-daerah kecil justru. Karena kebutuhannya begini loh, kalau dilihat dari penduduk Indonesia, yang paling besar itu di perdesaan, dan di perdesaan ini sekarang sedang membutuhkan transportasi, listrik, internet, pulsa, dan lainnya. Jadi pas kita turun ke sana, kita bisa menumbuhkan ekonomi di sana. Semua itu karena konsep ekonomi berbagi kita," ungkap Robert.
Aplikasi yang mulai mengaspal Mei 2016 ini berkembang di Sumatra, seperti Lampung dan Palembang. Startup yang berubah nama menjadi Tekno ini berkembang pesat di daerah karena sulitnya akses bagi masyarakat daerah untuk terbiasa dengan teknologi.
Tidak hanya masalah teknologi, sebagian masyarakat di daerah tidak memiliki tabungan di bank sehingga mereka sulit untuk melakukan pengisian top-up. Dalam menjawab masalah itu, Tekno menyediakan agen untuk melakukan pengisian sehingga masyarakat cukup menyambangi agen untuk mengisi saldo.
Jika dihitung dari total transaksi, Tekno sudah digunakan 12 ribu pengguna setiap bulannya. Sampai saat ini sudah mencapai 120 ribu pengguna yang mengunduh. Adapun agen atau rider Tekno sudah mencapai sekitar 15 ribu orang.
Meski menyasar daerah, kantor pusat Tekno ada di Cengkareng, Jakarta Barat. Mereka tetap mengirimkan pelatih atau trainer serta semua perlengkapan baik jaket dan helm ke daerah sehingga rider Tekno di daerah tetap bisa berkembang.
Economi berbagi
Tidak semata di bidang transportasi, Tekno ingin berkembang menjadi platform sharing economy (ekonomi berbagi).
"Kita enggak mau menjadi aplikasi ojek terbesar di Indonesia, tapi kita mau jadi aplikasi sharing economy terbesar di Indonesia. Nah, gimana caranya? Caranya adalah ya kita waktu itu mikir, salah satunya dari ojek ternyata ada yang lebih baik dari ojek which is di fintech. Makanya Teknojek-nya kita ubah jadi Tekno karena mau lebih ke fintech. Di fintech ini kita jualan pulsa listrik dan handphone yang pasti dipakai semua orang setiap bulan," ungkap pria yang juga menjadi entrepreneur ini.
Sayangnya sharing economy yang mereka lakukan sempat dinilai sebagai bentuk multilevel marketing (MLM). "Justru untuk menepis isu ini kita mau campaign the first sharing economy platform in Indonesia that gives back to you. No MLM, no pyramid scheme," ujar Kevin.
Tantangan
Robert mengaku, saat menjalankan usaha berbasis teknologi yang menyasar daerah, tantangan terbesar ialah sinyal. Tak mengherankan bila Tekno mendukung rencana Presiden Joko Widodo yang menargetkan di 2020 seluruh daerah di Indonesia bisa mendapatkan sinyal telekomunikasi dan internet.
Tidak semata sinyal, edukasi kepada masyarakat pun memiliki tantangan tersendiri. Untungnya, antusiasme generasi muda di daerah untuk mengenal internet membantu untuk melakukan edukasi kepada masyarakat.
Masalah jarak pun menjadi tantangan lain bagi Tekno. Jarak yang jauh dari kota besar membuat Tekno harus menghabiskan waktu sampai berjam-jam untuk masuk ke daerah yang disasar. Semua tantangan ini pun tetap mereka jalankan mengingat masyarakat daerah membutuhkan jasa mereka dan pasar yang harus disasar. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved