Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Gejala awal jepitan saraf pada tulang leher, antara lain, kesemutan berkepanjangan pada lengan. Pekerja yang sehari-hari menatap layar komputer termasuk yang berisiko mengalaminya.
SAWITRI, 63, begitu panik ketika tangan dan kaki kirinya tiba-tiba lemas tak bisa digerakkan. Buru-buru, dengan diantar sang anak, dia pergi ke rumah sakit. Sampai di UGD, dia segera ditangani dokter.
"Awalnya, saya dikira kena stroke, tapi hasil pemeriksaan lanjutan enggak cocok dengan diagnosis itu," ujar mantan akuntan itu.
Hasil pemeriksaan lanjutan justru menunjukkan ada saraf terjepit di tulang lehernya.
"Sebelumnya, sepekan lalu lengan kiri saya memang berasa kesemutan, hilang timbul berhari-hari enggak sembuh, sepanjang lengan sisi atas sampai ke jempol kiri. Tapi karena masih bisa aktivitas, saya abaikan, rencananya entar-entaran saja ke rumah sakit. Rupanya, menurut dokter, kesemutan itu bagian dari gejala saraf kejepit di tulang leher saya," tuturnya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan jepitan pada saraf di tulang leher itu sudah cukup parah. Untuk mengatasinya, Sawitri harus menjalani operasi.
Dokter yang menangani Sawitri, dr Phedy SpOT-Spine, menjelaskan kecurigaan Sawitri terkena stroke tak terbukti karena antara gejala dan hasil pemeriksaan MRI serta MRA tidak klop.
"Hasil MRI dan MRA memang menunjukkan ada penyempitan pembuluh darah di area otak sebelah kiri. Tapi pasien (Sawitri) justru mengalami kelumpuhan di sisi tubuh sebelah kiri. Sementara kita tahu sistem persarafan di otak menyilang. Area kiri otak bertanggung jawab pada pergerakan tubuh bagian kanan dan sebaliknya. Jadi, jika ada penyempitan di area kiri otak, seharusnya yang lumpuh di tubuh bagian kanan," terang dokter spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan tulang belakang itu pada temu media di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ditambah lagi, lanjut Phedy, gejala kesemutan di lengan kiri selama sepekan sebelumnya semakin menguatkan kecurigaan bahwa Sawitri memang bukan terkena TIA. Kecurigaan itu terbukti setelah hasil pemeriksaan MRI menunjukkan bahwa sumber masalahnya ada di leher. Ada jepitan saraf di sana. Istilah medisnya, cervical disc herniation.
"Yakni, ada bantalan tulang leher yang bocor, isinya keluar sehingga menjepit saraf (lihat grafik)," terang Phedy yang berpraktik di SHKJ.
Saraf terjepit pada tulang leher, lanjutnya, memiliki gejala beragam sesuai dengan tingkat keparahan. Pada tahap awal, gejala yang muncul mungkin berupa pegal dan nyeri pada leher hingga bahu dan lengan. Bisa juga muncul kesemutan yang menjalar hingga ke jari-jari. Namun, jika jepitan sudah parah dan mengenai saraf utama, gejala yang muncul ialah kelemahan atau kelumpuhan tangan maupun kaki.
"Letak nyeri, kesemutan, maupun kelumpuhan yang terjadi bisa berbeda-beda tergantung dari lokasi jepitan saraf yang terjadi (lihat grafik)," imbuh Phedy.
Metode endoskopi
Pada tahap ringan, jepitan saraf di leher bisa diatasi dengan fisioterapi serta obat-obatan antinyeri dan antiperadangan. Obat antiperadangan berfungsi meredakan pembengkakan yang terjadi di sekitar saraf sehingga saraf terbebas dari jepitan.
Namun, terang Phedy, jika pasien sudah menunjukkan gejala adanya kelemahan atau kelumpuhan anggota tubuh, penanganan harus dilakukan melalui operasi. Saat ini, lanjutnya, sudah ada operasi metode terbaru, yakni percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD). Operasi itu menggunakan peralatan endoskopi yang hanya memerlukan sayatan sebesar 0,5 cm di leher.
"Melalui sayatan itu perangkat operasi PECD yang terbuat dari serat optik dan terhubung ke layar monitor. Jadi, dokter bisa dengan jelas melihat lokasi jepitan dan melakukan tindakan untuk membebaskan saraf dari jepitan yang terjadi," terang Phedy.
Melalui operasi, lanjutnya, dokter akan mengambil bantalan tulang yang rusak. Sebagai gantinya, dokter akan memasang bantalan sintetik atau potongan tulang sehingga leher tidak kehilangan fungsi gerak dan dapat menjalankan fungsinya seperti semula.
"Risiko kegagalan operasi untuk jepitan saraf leher cukup rendah. Perdarahan selama operasi umumnya kurang dari 50 cc dan lama operasi 45-90 menit. Selain itu, kelebihan PECD ini adalah dalam beberapa jam setelah menjalankan operasi pasien dapat pulang dari rumah sakit (one day care)," terang Phedy.
Kuatkan otot, atur postur
Terkait dengan penyebab, Phedy menjelaskan jepitan saraf leher kerap terjadi pada usia produktif, yakni 30-50 tahun. Namun, bisa juga mengenai orang yang lebih muda maupun tua. Penyebab gangguan itu utamanya ialah gerakan salah yang berulang terjadi pada leher serta postur leher yang keliru.
"Gerakan salah, misalnya, gerakan menyentak leher ke kanan atau kiri. Jadi, kalau habis pijat, jangan mau lehernya dikretek-kretekin, itu bahaya," cetus Phedy.
Adapun postur yang keliru, misalnya, berlama-lama menunduk menatap layar gawai maupun monitor komputer. Selain itu, posisi tidur miring dengan bantal terlalu rendah atau terlalu tinggi. "Semua itu menimbulkan beban pada tulang leher yang membuat bantalan antartulang leher lebih cepat rusak. Sebaiknya, kalau menunduk melihat HP, beri jeda, tiap 1 menit tegakkan leher, jangan menunduk terus," saran Phedy. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved