Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUSAHA mengapresiasi langkah pemerintah yang akan meneliti pemanfaatan 32 tanaman menjadi obat fitofarmaka untuk 13 penyakit prioritas. Hal itu tidak lepas dari besarnya potensi Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayatinya.
"Itu bagus idenya. Di dalam sejarah, itu baru sekali ini. Kita punya puluhan ribu tanaman alam, tapi baru sedikit yang berstatus fitofarmaka," ujar Presiden Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat kepada Media Indonesia, saat dihubungi tadi malam.
Fitofarmaka merupakan obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Penelitian 32 tanaman itu dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dengan menggandeng Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. "Jadi, obat-obatan alam akan berkembang lagi pemanfaatannya. Pemerintah juga bisa mengekspornya nanti," kata Irwan lagi.
Kepala Badan POM Penny K Lukito mengatakan pengembangan obat fitofarmaka dan jamu nantinya melibatkan konsorsium, yang melibatkan lintas kementerian, akademisi, dan pelaku usaha.
Unsur pemerintah terdiri atas Kemenristek-Dikti, Kemenkes, Kementan, LIPI, BPPT, asosiasi perguruan tinggi farmasi, ikatan apoteker, gabungan pengusaha jamu, dan gabungan pengusaha farmasi.
Meskipun kaya akan keanekaragaman hayatinya, imbuhnya, Indonesia masih tertinggal dari Tiongkok dan India yang lebih dulu mengembangkan obat berbahan alam dan herbal. Diperlukan intervensi antarlembaga untuk percepatan pemanfaatan keanekaragaman hayati di Indonesia agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.
"Kita sudah unggul di produk vaksin dan kita ingin mendorong obat berbahan alam salah satunya fitofarmaka," ucap Penny, saat penandatanganan MoU dengan Kemenristek-Dikti, Senin (19/11).
Nantinya, Badan POM melakukan pendampingan saat proses pengembangan, yakni penelitian, uji klinis, fasilitasi bimbingan teknologi, dan percepatan produksi termasuk pengawasan saat sudah dipasarkan.
Lambannya pengembangan fitofarmaka selama ini disebabkan hasil riset tidak sesuai kebutuhan industri, hasil penelitian kerap tidak konsisten saat diproduksi dan standardisasi bahan baku dan produk jadi yang tidak konsisten.
"Langkah Badan POM mendampingi sampai siap dikomersialkan ialah langkah strategis. Sebab kalau sudah diproduksi tanpa prosedur dan standar yang ada harus diulang lagi," sahut Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek-Dikti Muhammad Dimyati. Selain pendampingan, kendala lainnya ialah pendanaan. Karena itu, industri akan didorong ikut serta lewat pemberian insentif berupa pengurangan pajak bagi produknya.
Manfaatkan secang
Terdapat tiga jenis penggolongan obat tradisional, yakni jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Dari 32 tanaman itu, salah satu yang dikembangkan menjadi produk fitofarmaka ialah secang.
"Secang dianggap berkhasiat untuk penanganan penyakit diabetes," beber Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM Maya Gustina Andarini.
Badan POM berharap upaya itu dapat mencetak industri farmasi dalam negeri yang mandiri dan berdaya saing tinggi. Pasalnya, sekitar 90%-95% bahan baku farmasi masih diimpor. (Ros/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved