Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SANITASI total berbasis masyarakat (STBM) sudah berjalan lebih dari lima tahun. Akan tetapi data Kementerian Kesehatan menunjukan hanya satu provinsi di Indonesia yang bebas dari buang air besar sembarangan yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari, menuturkan program STBM dimaksudkan agar masyarakat mau mengubah perilakunya dengan buang air besar di jamban. Sebab ada risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan tersebut.
Diare, terang Kirana, menjadi masalah kesehatan yang muncul saat musim hujan terutama di daerah-daerah yang belum sepenuhnya menerapkan STBM. Diare disebabkan oleh perilaku yang tidak bersih misalnya tidak mencuci tangan setelah BAB. Selain itu, BAB sembarangan atau open defecation free (ODF) juga dapat mencemari sumber air.
"Kasus diare banyak pada waktu-waktu tertentu misalnya musim hujan. Hati-hati daerah yang belum STBM kalau kasus diarenya tinggi, kita intervensi," kata Kirana di Jakarta, Senin (19/11).
Baca juga: Tanaman Terpilih akan Dikembangkan Jadi Fitofarmaka
Intervensi yang dilakukan antara lain melakukan klorinasi untuk sumber air supaya air tersebut bersih. Selain itu masyarakat diminta membiasakan untuk dimasak air terlebih dahulu sebelum dikonsumsi agar bakteri dan kumannya mati. Perilaku hidup bersih dan sehat seperti kebiasaan mencuci tangan juga penting dilakukan.
Kesadaran untuk tidak BAB sembarangan, imbuhnya, erat kaitannya dengan perubahan perilaku di masyarakat. Di Indonesia masih banyak penduduk yang BAB di sungai ataupun kebun.
Karena itu, pendekatan STBM dimulai dari tingkat desa dengan mengajak masyarakat memetakan masalah mereka dan melihat berapa banyak jumlah kepala keluarga yang belum memiliki jamban.
Ia menjelaskan, petugas penyuluh di tingkat desa akan memberikan pemicuan. Masyarakat diberikan contoh sehelai rambut yang diibaratkan lalat, apabila hinggap di kotoran, lalu dicelupkan ke air masyarakat mau minum atau tidak.
"Ternyata mereka tidak mau minum. Artinya sumber penyakitnya ada, dan sadar pentingnya jamban. Setelah mereka punya komitmen itu, baru diberikan bantuan (untuk jamban)," terang Kirana.
Untuk pembuatan jamban, masyarakat bisa mendapatkan bantuan dari Kementerian Kesehatan ataupun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tetapi, Kirana melanjutkan, di desa yang partisipasi terhadap STBM sudah baik, mereka membuat jamban dengan cara iuran bersama-sama.
Diakuinya, setiap daerah harus dengan pendekatan berbeda-beda. Ia mencontohkan di Kalimantan, masyarakat buang air di sungai dan air bersih sangat sulit didapat. Program STBM menjadi sulit dilakukan.
"Daerah yang susah air itu tantangan besar, ada teknologi tepat guna yang mulai dibuat ada jamban yang mengapung. Tapi sebaiknya tetap menggunakan septik tank karena ada proses pembusukan kalau busuk dengan baik tingkat kontaminasinya jadi rendah,"jelasnya.
Ada 5 pilar STBM, yaitu stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan sampah, dan pengelolaan limbah cair.
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2007 menunjukkan jika setiap anggota keluarga dalam suatu komunitas melakukan 5 pilar STBM akan dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 94%.
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek sempat menjelaskan bahwa penyakit akibat sanitasi yang buruk seperti gangguan saluran pencernaan membuat energi untuk pertumbuhan tubuh menjadi teralihkan, sehingga tubuh kurang mempu menghadapi penyakit infeksi.
Sanitasi juga berkaitan erat dengan stunting. Akses terhadap sanitasi yang baik berkontribusi dalam penurunan stunting sebesar 27%. Jika intervensi yang terfokus pada perubahan perilaku dalam sanitasi dan kebersihan dapat menyebabkan potensi stunting berkurang. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved