Membangun Karakter Siswa di Sekolah melalui Puisi Esai

Micom
19/11/2018 15:20
Membangun Karakter Siswa di Sekolah melalui Puisi Esai
(Denny JA---Ist)

SISWA bahkan guru di sekolah semakin memiliki problem dengan karakter yang mencerminkan keberagaman, kesetaraan, dan kebebasan warga negara. Riset dari PPIM Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan survei LSI Denny JA pada 2018 menemukan tingkat intoleransi yang semakin tinggi di kalangan siswa, juga di kalangan guru.

Di luar riset itu, juga diketahui luas isu soal narkoba, pernikahan dini, apatisme atas isu lingkungan, keluarga yang tidak harmonis (broken home), dan pencarian identitas diri di kalangan siswa.

Karena itu, komunitas puisi esai memberikan ikhtiar. Di samping  pendidikan karakter melalui agama dan Pancasila, komunitas ini bermaksud menggalakkan pula pengajaran puisi esai.

"Ini jenis puisi yang panjang, dengan catatan kaki, yang memberi ruang bagi drama moral yang menyentuh," ujar Denny JA, pemilik lembaga survei yang menggagas puisi esai dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/11).

Maka, lima dosen dan guru, dari lima pulau yakni Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua,  bersama menyusun buku panduan soal puisi esai untuk sekolah.

Menurut Denny, sastra bukan hanya belajar karya baku para sastrawan. Sastra juga merupakan ekspresi para siswa dan mahasiswa atas lingkungan sosialnya sendiri, kemarahannya, ketakutannya, kegembiraanya, harapannya.

"Dengan sedikit riset, fakta, dan data di lingkungan sosial oleh para siswa dapat dituliskan dalam catatan kaki. Mereka menambahkan fiksi sehingga kisah nyata itu menjadi drama, menjadi cerpen yang dipuisikan," ujar pemilik LSI Denny JA itu.

Adapun detail soal puisi esai dapat dipelajari para guru dan dosen melalui buku mengenal puisi esai. Pembaca dapat pula memilikinya secara daring (online). Puisi esai yang awalnya digagas Denny JA ini memang terus tumbuh meluas dan meninggi.

Sebanyak 176 penyair dari 34 provinsi sudah menuliskan kearifan lokal di provinsi masing-masing dalam 34 buku puisi esai. Kisah budaya Indonesia di 34 provinsi pun tersaji di buku tersebut.

Kemudian 12 penyair Malaysia dan Indonesia sudah pula menuliskan riwayat hubungan dua negara dalam puisi esai. Mempelajari kubungan kultural dan batin Indonesia justru lebih terasa dalam bentuk sastra.

"Kini penyair dari Brunei, Thailand, dan Singapura, menuliskan riwayat kultur mereka sendiri, juga dalam puisi esai. Di Malaysia, bahkan diluncurkan lomba menulis puisi esai di tingkat ASEAN," urai Denny.

Dan kini anak-anak SMA di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mulai pula melakukan riset soal dunia mereka sendiri. Riset itu ditambahkan fiksi menjadi puisi esai. Puisi esai pun berkembang menjadi cara baru menuliskan opini, menjadi dokumen baru mempelajari sebuah persoalan.

"Itu sebuah ikhtiar jika puisi esai juga masuk sekolah, ikut membentuk karakter siswa," pungkasnya. (RO/OL-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya