Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu penyebab semakin berkembangnya intoleransi di Indonesia karena adanya pembiaran. Pembiaran dapat menjadi suatu pembenaran apabila masyarakat yang setuju dengan toleransi hanya diam. Demikian yang terungkap dalam diskusi bertajuk Toleran terhadap Intoleransi? di Institut Français d'Indonésie di Jalan M.H Thamrin, Jakarta pada Minggu (18/11).
Satria Adhitama, Dosen Pancasila dan Kebangsaan PKN STAN, menuturkan ada berbagai alasan kelompok masyarakat toleran menjadi diam ketika peristiwa intoleran terjadi. "Diam bisa karena takut atau dianggap tidak sama dengan yang lain," ujarnya.
Ia mencontohkan, intoleransi pernah terjadi di Indonesia yakni penutupan gereja dan pelarangan beribadah yang berulang kali terjadi. Kelompok intoleran tersebut, terang Satria, berdalih bahwa aksi penutupan gereja untuk membela agama tertentu yakni islam. Tetapi tidak semua umat Islam menginginkannya, namun hal itu tetap dibiarkan.
Baca juga: Medsos Disebut Berpotensi Semai Bibit Intoleransi-Radikalisme
Menurut Satria, banyak masyarakat yang sebenarnya tidak setuju dengan tindakan intoleran, tetapi untuk melawannya tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Melainkan dengan cara yang lebih elegan salah satunya menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini pada generasi selanjutnya.
Sementara itu, Alto Labetubun, praktisi keamanan dan perdamaian, berpendapat alasan terjadinya pembiaran tindakan intoleran adaah karena orang yang ingin menyuarakan pluralisme menjadi takut karena adanya presekusi atau kesewenang-wenangan di masyarakat. Presekusi dapat terjadi karena ada perbedaan yang tidak sesuai dengan kepercayaan atau prinsip. "Dalam hal ini, negara harus menujukan sikapnya berdiri di atas semua golongan dan memastikan hak-hak semua orang dijaga," ujarnya.
Selain itu, menurut Alto, sikap acuh tak acuh juga mengiring adanya pembiaran intoleransi. "Karena tidak beririsan langsung dengan kepentingan kita jadi acuh tak acuh," cetusnya.
Mantan Komandan Mantiqi III Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas, mengatakan intoleransi bermula dari rasa ekslusivitas. Rasa istimewa kemudian membuat seseorang memandang orang lain lebih rendah dan memunculkan sikap-sikap intoleran. "Jangankan kepada kelompok beda agama tetapi sesama agama juga di Syriah itu terjadi," ungkap Nasir.
Ketika direkrut dulu, pria yang kini mendirikan sekolah toleransi di Batu Malang itu mengungkapkan, bahwa ada proses indoktrinasi sebelum seseorang benar-benar menjadi intoleran. Dirinya, terang Nasir, diberikan pemahaman bahwa Pancasila ialah agama baru dan harus ditolak. Hal itu membuat ia sempat salah mepresepsikan pancasila sebagai ideologi bangsa.
"Tapi saya temukan sebaliknya. Pancasila tidak ada salahnya dalam agama. Itu satu konsep yang kita perlukan untuk menyelaraskan masyarakat seperti di Indonesia," tukas Nasir. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved