Pola Perilaku Makan yang Salah Pemicu Penyakit Tidak Menular

Indriyani Astuti
18/11/2018 13:10
Pola Perilaku Makan yang Salah Pemicu Penyakit Tidak Menular
(MI/PIUS ERLANGGA)

PERILAKU makan yang salah dapat menimbulkan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes hingga penyakit jantung karena kolestrol tinggi. 

Hal itu sesuai dengan naiknya prevalensi PTM di masyarakat pada hasil riset kesehatan dasar 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan.

Menteri Kesehatan Nila. F. Moeloek mengatakan angka prevalensi hipertensi di Indonesia  mencapai 40%. Itu menjadi beban tersendiri bagi negara sebab, penderita hipertensi harus minum obat setiap hari. Selain itu, hipertensi juga merupakan faktor risiko penyakit jantung.

"Salah satu penyebab rendahnya kualitas kesehatan seseorang karena kurang makan sayur dan buah. Ditambah kurangnya aktivitas fisik dan tidak rutin cek kesehatan," kata Menkes dalam acara puncak Hari Kesehatan Nasional ke-54 bertema “Ayo Hidup Sehat Mulai dari Kita" di Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada Minggu (18/11).

Data riset kesehatan dasar (riskesdas) menunjukan penduduk yang mengonsumsi sayur dan buah cukup, jumlahnya kurang dari 10%. Menurutnya hal itu bertolak belakang dengan kondisi Indonesia yang kaya akan buah-buahan lokal.

"Berbagai macam buah dan sayur yang bisa didapatkan dengan mudah," cetus Menkes.

 

Baca juga: Empat Sehat Lima Sempurna Digantikan Isi Piringku

 

Untuk sumber protein, imbuhnya, tidak hanya daging tetapi ikan juga mudah di dapatkan di Indonesia. Begitu juga karbohidrat dengan adaya diversifikasi pangan di daerah, penduduk Indonesia dapat mengganti nasi sebagai sumber karbohidrat dengan ketela atau singkong, sagu ataupun jagung.

Menkes menuturkan bahwa Hari Kesehatan Nasional-54 bertema Hidup Sehat Mulai dari Kita, menjadi momentum menggaungkan pentingnya menjaga kesehatan yang dimulai dari kesadaran di masyarakat. 

Pihaknya,terang Menkes, terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, di antaranya melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang menekankan pada perbanyak makan buah dan sayur, aktivitas fisik, dan cek kesehatan secara rutin.

“Cek kesehatan rutin bisa dilakukan dengan cara sederhana dan bisa dilakukan sendiri, seperti cek hipertensi,” kata Menkes

Membaca Label
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari mengatakan selain gizi sehat dan seimbang, masyarakat perlu mengetahui batas maksimum konsumsi  asupan garam, gula, dan lemak setiap harinya. Karena itu, terang Kirana, kebiasaan membaca kandungan dari makanan pabrikan sangat penting.

"Kita harus tau dalam sehari batas maksimal asupan gula, garam dan lemak. Regulasinya memang bertahap tapi informasi penting," terangnya.

Saat ini aturan yang telah dibuat untuk pencantuman label gula, garam dan lemak hanya Peraturan Menteri Kesehatan. Tetapi industri belum diwajibkan mencantumkannya. 

Peraturan yang lebih tinggi melibatkan kementerian lain yakni Kementerian Perindustrian untuk mendorong produsen membuat informasi yang lebih sederhana mengenai kandungan tersebut pada makanan dan minuman. Salah satunya dengan tanda merah, berarti kandungannya tinggi gula, sedangkan hijau rendah gula.

"Gula ada dimana-mana, kita harus kenal makanan yang mengandung gula. Orang Indonesia senang makan jajajan, misalnya gorengan ada tepungnya, ada kandungan gulanya pada tepung," kata Kirana.

Seraya menunggu aturan tersebut, Kirana mengatakan pihaknya juga mendorong restoran untuk tidak menyajikan gula dan garam di meja. Ia juga mengimbau agar di rumah, sebaiknya tidak menaruh gula dan garam di meja makan. Supaya masyarakat tidak sembarangan menambahkan gula dan garam dalam makanan mereka.

"Membawa makanan dari rumah juga penting, kita bisa mengendalikan gizinya karena kalau jajan di luar kita tidak tau kandungannya," tukas dia. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya