Filantropi Bantu Capai SDGs

Putri Anisa Yuliani
16/11/2018 10:00
Filantropi Bantu Capai SDGs
(. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

SIKAP filantropi Indonesia harus terus ditingkatkan karena filantropi bisa menjadi langkah untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs). Berdasarkan World Giving Index, saat ini Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara paling dermawan.

Menurut Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, upaya mencapai SDGs melalui filantropi sangat penting. Indonesia memiliki modal untuk terus meningkatkan sikap filantropi melalui kewajiban berzakat karena merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

"Filantropi Indonesia makin besar dan punya peran penting untuk mencapai tujuan SDGs. Kita punya modal karena sebagai negara berpenduduk muslim terbesar otomatis akan menjalankan filantropi melalui kewajiban berzakat," katanya saat membuka Festival Filantropi Indonesia 2018 di Jakarta, kemarin.

Bambang mengatakan, Indonesia telah mengombinasikan zakat dengan program-program menuju SDGs melalui pembuatan fikih zakat untuk SDGs yang dikeluarkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Zakat juga telah disetujui bisa digunakan untuk pembangunan sanitasi, sekolah, serta irigasi yang beguna untuk pemenuhan SDGs.

"Saat ini kita memulai hal tersebut dan ternyata negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sudah tertarik untuk menerapkannya," ujarnya. Ia pun berharap melalui Festival Filantropi, kesadaran untuk berbagi bisa tumbuh dan terus berkembang.

Ia mengungkapkan, jumlah zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang terhimpun di Indonesia setiap tahun meningkat hingga 38%. Hal tersebut menunjukan masyarakat telah menyadari pentingnya dana sosial untuk kesejahteraan.

Berdasarkan peningkatan ini pula dapat diartikan ekonomi masyarakat terus membaik sehingga kemauan dan kesadaran untuk beramal semakin tinggi. "Artinya ekonomi masyarakat juga membaik meski memang tidak ada indikator tetap untuk bisa berzakat asal mampu. Tetapi kemudian peningkatan ini menjadi tanda minimal kesejahteraan masyarakat meningkat sehingga kesadaran untuk melakukan filantropi juga meningkat," terangnya.

Menurut Bambang, posisi pertama yang diraih Indonesia sebagai negara paling dermawan mematahkan mitos bahwa untuk beramal harus kaya sebab dari segi pendapatan per kapita, Indonesia masih di bawah Australia dan Selandia Baru. Berdasarkan World Giving Index Australia dan Selandia Baru menempati posisi kedua dan ketiga negara dermawan.

Generasi milenial

Besarnya rasa filantropi Indonesia juga berasal dari generasi milenial. Generasi itu tidak hanya identik dengan teknologi untuk mengembangkan ekonomi digital, tetapi juga mampu mengembangkan usaha sosial guna menolong orang di sekitarnya.

"Saya mengapresiasi tumbuhnya aksi generasi milenial melalui usaha sosialnya. Kini kita bisa lihat bahwa filantropi bukan monopoli orangtua yang kaya," terangnya.

Hal senada disampaikan Co-chair Filantropi Indonesia Erna Witoelar yang mengungkapkan, filantropi merupakan kombinasi kedermawanan dan kerelawanan. Filantropi Indonesia sudah merambah para generasi muda.

Menurutnya, kini filantropi tidak menjadi monopoli kaum tua yang kaya. Terbukti dari pameran ini yang juga diisi oleh ide dari kaum muda. Ia berharap pengunjung festival bisa mendapat inspirasi guna melakukan langkah filantropi. (H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya