Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN antibiotik secara bijak dan sesuai diagnosis menjadi cara terbaik mencegah resistensi antimikroba. Pasalnya, perusahaan farmasi mengaku kesulitan membuat antibiotik jenis baru dan hanya memodifikasi antibiotik yang sudah ada. Medical Director PT. Pfizer Indonesia Handoko Santoso mengatakan butuh penelitian yang cukup panjang untuk menemukan antibiotik baru.
"Sekali coba belum tentu ditemukan molekul yang cocok untuk antibiotik tersebut," ujarnya dalam dalam konferensi media memperingati Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia: Waspada Peningkatan Resistensi Antibiotik! kerjasama PT. Pfizer Indonesia (Pfizer) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan RS Universitas Indonesia, di Rumah Sakit Universitas Indonesia di Depok, pada Kamis (15/11).
Oleh karena itu, sambung Handoko, dengan keterbatasan antibiotik yang ada, tenaga medis harus menggunakannya secara tepat dan bijak. Tujuannya, meminimalkan risiko resistensi antimikroba. Ia menjelaskan, jika resistensi antimikroba terjadi, maka lebih sedikit lagi pilihan antibiotik yang bisa digunakan oleh para tenaga medis untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroba.
Baca juga: Tidak Semua Penyakit Butuh Antibiotik
Hal senada diutarakan oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) Dr. Anis Karuniawati PhD, SpMK (K) bahwa membuat obat antimikroba jenis baru tidak mudah. Selain itu, dari sisi bisnis belum tentu menguntungkan bagi industri farmasi.
"Prosesnya lama, dari sejak ekstraknya ditemukan diperkirakan membutuhkan waktu 12 hingga 14 tahun. Juga ada kemungkinan antibiotik itu nantinya tidak bisa dipakai lagi karena bakterinya kebal," terangnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dokter dalam membuat resep obat harus memerhatikan pemberian antibiotik pada pasien. Peruntukan antibiotik, ujarnya, tidak bisa sembarangan dan harus khusus untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh mikroba. Selain dokter, apoteker dan masyarakat juga diminta untuk paham bahwa pembelian antibiotik dilarang tanpa adanya resep dari dokter.
Resistensi antibiotik disebabkan karena bakteri tidak lagi dapat dimatikan dengan antibiotik, sehingga mengancam kemampuan tubuh dalam melawan penyakit infeksi. Akibatnya dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Jika jumlah bakteri resisten antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi itu, pasien harus menanggung perawatan yang Iebih lama dan mahal. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved