Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menggelar Annual Seminar World Class Profesor (WCP) 2018. Lebih dari 100 profesor diaspora dan asing didatangkan untuk berbagi pengalaman dengan dosen serta peneliti perguruan tinggi Tanah Air.
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, menyatakan produktivitas dosen-dosen Tanah Air perlu ditingkatkan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Karena itu, kolaborasi dengan para cendekia diaspora dan asing yang sukses meniti karir diperlukan.
"Kita ingin adanya penguatan inovasi dan penelitian. Karena itu kolaborasi dengan profesor mancanegara dan diaspora penting. Tahun ini dalam program WCP ada 115 profesor yang hadir," ujarnya seusai membuka seminar di Jakarta, Kamis (15/11).
Baca juga: Jumlah Publikasi Ilmiah Meningkat Sepanjang 2017-2018
Hingga saat ini, lanjutnya, publikasi ilmiah internasional dosen atau peneliti dalam negeri kian meningkat. Lima tahun lalu, publikasi internasional hanya menyentuh kisaran 5 ribu publikasi. Tahun ini, jumlahnya melonjak tajam mencapai 20 ribu publikasi.
"Dari segi jumlah publikasi memang pekerjaan yang berat karena dulu akademisi kita kurang produktif dan kurang inovasi tapi dengan program ini diharapkan bisa meningkat. Saat ini dari sisi jumlah publikasi terindeks scopus sudah lebih baik posisi Indonesia di ASEAN berada di posisi dua di atas Singapura," imbuhnya.
Annual Seminar World Class Professor sendiri menjadi ajang untuk mengevaluasi capaian Program WCP yang telah berlangsung sejak Mei 2018. Hingga saat ini, progres sementara proyek kolaborasi publikasi yang telah dimonitoring tim pakar WCP sebesar 60%.
"Sementara yang berstatus published sebanyak dua karya publikasi, yang berstatus revised sebanyak empat karya, accepted sebanyak satu karya, under reviewed sebanyak 20 karya, dan submitted sebanyak 35. Targetnya program ini bisa menghasilkan 115 publikasi internasional," ujarnya.
Dia menambahkan, ke depan, tak hanya soal jumlah publikasi yang akan digenjot tapi juga kualitas publikasi dengan tingkat sitasi tinggi. "Soal sitasi tinggi ini memang tidak mudah karena peneliti harus menghasilan sesuatu yang baru, harus ada inovasi keilmuan," ucapnya.
Salah satu profesor diaspora asal University of Technology Sydney, TM Indra Mahlia, menegaskan publikasi ilmiah internasional amat penting bagi cendekia kampus untuk bisa bersaing di tingkat global. Kolaborasi dengan peneliti berpengalaman baik itu luar ataupun dalam negeri dibutuhkan untuk melebarkan jejaring serta mengungkit kapasitas keilmuan.
"Agar karya kita bisa menjadi publikasi dengan sitasi tinggi, kita harus bisa menjadi expert di suatu area jangan di berbagai bidang." pungkasnya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved