Target Eliminasi TB pada 2030 Sulit Dicapai

Indriyani Astuti
14/11/2018 18:35
Target Eliminasi TB pada 2030 Sulit Dicapai
(MI/PIUS ERLANGGA)

INDONESIA akan sulit mencapai eliminasi tuberkolosis yang ditargetkan pada 2030 apabila strategi yang dilakukan hanya penemuan kasus dan mengobatinya hingga sembuh. Diperlukan kerja sama lintas sektor dan komitmen bersama untuk mengakhiri tuberkolosis di Indonesia yang angkanya saat ini diperkirakan  842.000 kasus setiap tahunnya.  

Demikian mengemuka dalam diskus panel antara Kementerian Kesehatan dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) yang bertajuk 'Langkah Strategis Indonesia Menuju Eliminasi TB 2030' di Jakarta, pada Rabu (14/11).

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan, meskipun kasus TB di Indonesia mengalami penurunan dari 1,2 juta per tahun menjadi 842.000, tetapi pelaporan atau kasus TB yang mendapat notifikasi masih rendah hanya 49%. Pelaporan kasus yang masih rendah, kata Menkes, menghambat upaya pengobatan dan eliminasi TB.

"Pendataan sangat penting. Rumah sakit selama ini agak kurang perhatian menganggap TB tidak populer, padahal kasus harus tetap dilaporkan. Kita sudah sediakan obat gratis. Ketidakpatuhan  pasien minum obat dikhawatirkan resisten. Ini yang perlu pendampingan agar pasien jangan putus minum obat," terang Menkes.

Menkes juga mengatakan Indonesia masih menerima bantuan donor dari lembaga internasional untuk penanganan kasus TB. Ia pun khawatir jika Indonesia gagal mengeliminasi TB pada 2030, Indonesia akan kesulitan apabila sudah tidak lagi mendapatkan pendanaan.

Sementara itu, Dr dr Erlina Burhan SpP(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan mengatakan dalam mengeliminasi, intervensi yang dilakukan pemerintah masih berfokus pada penemuan kasus TB dan mengobatinya. Ia meyakini tanpa adanya pendekatan lain yakni aspek pencegahan, eliminasi TB pada 2030 akan sulit dicapai.

"Pencegahan harus dipikirkan. Jangan sampai orang jadi sakit misalnya dengan peningkatan gizi, atau pencegahan orang-orang yang sakit baik flu atau bukan sebaiknya mengenakan masker. Selain itu,  sirkulasi udara di rumah harus baik,"  terang Erlina.

Selain itu, pihak swasta, terangnya, mesti terlibat diantaranya dalam mengembangkan vaksin yang efektif untuk pencegahan TB. Johnson&Johnson, imbuhnya, sempat menyatakan tengah membuat vaksin untuk TB.  

Selain vaksin, Erlina menyampaikan, pasien TB khususnya TB multi drug resistant (MDR) atau resisten obat, membutuhkan jenis obat yang lebih pendek masa pengobatannya. Itu dimaksudkan agar angka putus minum obat akibat panjangnya masa pengobatan dapat dihindari.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina STPI Arifin Panigoro mengatakan situsasi TB di Indonesia belum sepenuhnya mendukung target eliminasi TB. Selain masih banyak kasus yang belum terdeteksi dan tidak dilaporkan, keberhasilan pengobatan TB belum mencapai 90% sebagaimana standar internasional.

Selain itu, ketimpangan di kualitas pelayanan TBC di daerah masih terjadi. Ia mengatakan meskipun penanganan TB sudah menjadi standar pelayanan minimal di fasilitas kesehatan di tingkat nasional, tetapi capaian setiap daerah berbeda-beda.

Prevalensi pasien TB di Indonesia, sebanyak 319 per 1000 penduduk. Angka itu masih jauh dari rata-rata prevalensi global sebanyak 135 kasus per 1000 penduduk. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya