Jangan Biarkan Diabetesi Berjuang Sendirian

Eni Kartinah
14/11/2018 07:30
Jangan Biarkan Diabetesi Berjuang Sendirian
()

HINGGA saat ini, penyakit diabetes melitus belum bisa disembuhkan. Akan tetapi, dengan pengelolaan yang baik, penderitanya bisa tetap hidup berkualitas dan produktif. Salah satu faktor penting dalam pengelolaan diabetes ialah dukungan keluarga.

"Dukungan keluarga amat sangat penting bagi diabetesi (penderita diabetes). Karena diabetes penyakit yang memerlukan upaya pengobatan dan pengelolaan seumur hidup, tidak boleh berhenti. Jadi, harus ada support yang bagus dari keluarga," kata pakar diabetes, Prof dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD, pada peringatan Hari Diabetes Sedunia di Jakarta, Minggu (11/11).

Itulah mengapa, lanjut Sidartawan, peringatan Hari Diabetes Sedunia tahun ini mengambil tema Keluarga dan diabetes. Hal itu untuk mendorong keluarga untuk turut berjuang bersama diabetesi dalam mengelola penyakitnya.

"Bayangkan jika suami yang diabetes makan bersama anak istri, makanannya dipisahkan, menunya beda, enggak enak. Kalau cuma sekali dua kali mungkin tak jadi soal, tapi jika terus-terusan, kan bikin suami down juga. Atau ketika lagi bosan minum obat atau suntik insulin enggak ada yang menyemangati, kontrol ke dokter selalu sendirian, kan sedih ya," ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Hal senada juga disampaikan Kepala Divisi Metabolik-Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr Dante Saksono SpPD-KEMD. Ia menjelaskan, tema peringatan Hari Diabetes Sedunia yang secara global mengangkat tema Keluarga dan diabetes bukan hanya menekankan pentingnya dukungan keluarga untuk diabetesi, melainkan juga perlunya antisipasi dampak diabetes pada kehidupan keluarga.

"Jika yang terkena diabetes seorang suami atau yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Kalau dia sopir, kakinya harus diamputasi karena diabetes misalnya, tentu sangat berdampak pada ekonomi keluarga. Juga kalau ada anggota keluarga yang harus menjalani cuci darah karena gagal ginjal akibat diabetes, tentu menimbulkan beban biaya yang tidak sedikit," terang Dante.

Karena itu, diabetes harus dihadapi bersama. Ketika ada salah satu anggota keluarga yang menderita diabetes, bukan hanya dia yang harus mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, melainkan juga seluruh anggota keluarga.

"Dengan langkah itu, diabetesi akan lebih bersemangat karena tidak merasa sendirian menghadapi penyakitnya. Yang juga tak kalah penting, langkah itu juga menjadi pencegahan bagi anggota keluarga lainnya agar tidak kena diabetes. Perlu diingat, ketika ada anggota keluarga yang kena diabetes, artinya anggota lainnya memiliki faktor genetik untuk kena diabetes. Nah, penerapan gaya hidup sehat mencegahnya," papar Dante.

Aktivitas fisik
Pada kesempatan itu, Dante mengulas pentingnya aktivitas fisik sebagai salah satu langkah mencegah diabetes. Yang dimaksud bukan hanya olahraga teratur, melainkan juga memperbanyak gerak tubuh dalam kehidupan sehari-hari.
"Misalnya, parkir jauh dari kantor atau mal agar ada kegiatan jalan kaki. Atau kalau naik lift berhenti satu lantai di bawahnya agar ada kegiatan naik tangga," kata Dante mencontohkan.

Ia mengingatkan, aktivitas fisik sangat penting untuk mencegah resistensi insulin yang menjadi cikal bakal diabetes tipe dua, juga mencegah kegemukan yang juga faktor risiko diabetes.

Dokter M Pasha SpPD juga mengatakan hal yang sama. Ia menjelaskan, olahraga meningkatkan sensitivitas terhadap insulin karena olahraga memaksa otot bekerja lebih berat. Kondisi itu menjadi sinyal bagi sistem tubuh untuk memasok gula dari darah ke dalam sel-sel otot untuk digunakan sebagai sumber energi. Insulin pun bekerja (lihat grafik).

"Sebaliknya, kalau hidup malas gerak, otot enggak banyak dipakai, tidak ada sinyal otot membutuhkan gula. Terjadi resistensi insulin. Gula pun lebih banyak menumpuk dalam darah," terangnya.

Terpisah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan, Cut Putri Ariane, mengatakan meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia menjadi perhatian pemerintah. Hal itu mengingat diabetes merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal. Kesemuanya merupakan penyakit katastropik yang pengobatannya memerlukan biaya tinggi. Karena itu, pihaknya terus menggalakkan upaya pencegahan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan deteksi dini.

"Di posbindu (pos pembinaan terpadu), sudah ada layanan screening awal diabetes sehingga jika ditemukan, warga bisa memeriksakan diri ke puskesmas maupun fasilitas kesehatan tingkat pertama lainnya. Di sana sudah dilengkapi dengan ketersediaan beberapa jenis obat untuk penderita diabetes," terang Cut. (H-1)

 

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya