RSPAD Gatot Soebroto Berikan Layanan DSA untuk 1.000 Warga Vietnam

Indriyani Astuti
12/11/2018 13:21
RSPAD Gatot Soebroto Berikan Layanan DSA untuk 1.000 Warga Vietnam
(Ist)

RUMAH Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto menjalin kerja sama dengan pemerintah Vietnam dalam rangka memberikan pelayanan terapi digital subtraction angiography (DSA). Layanan DSA tersebut akan diberikan pada 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mendorong medical tourism di Indonesia di bidang layanan kesehatan.

Kepala RS Kepresidenan RSPAD Mayor Jenderal (Mayjen) TNI dr. Terawan Agus Purtanto SpRad mengatakan teknologi DSA telah dikembangkan dan dikenal luas oleh banyak pasien baik dari dalam dan luar negeri. DSA, umumnya digunakan untuk diagnosis. Namun Terawan mengembangkannya sesuai dengan kompetensi dirinya sebagai spesialis radiologi intervensi terapi.

"Teknologi ini diminati banyak pasien tidak hanya dari Vietnam. Ini standar pelayanan internasional dan jika dikembangkan sebagai medical tourism bisa mendatangkan devisa yang baik untuk negara," ujar Terawan seusai acara penandatanganan kerja sama di Aula RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (12/11).

Baca juga: DPR Dukung Uji Klinis Riset Dokter Terawan

Terawan mengatakan banyak pasien antusias untuk mendapatkan tindakan DSA. Ia mengklaim dalam sehari bisa melayani sekitar 30 pasien. Untuk pelayanan DSA bagi pasien warga negara asing, RSPAD Gatot Soebroto melibatkan Clinique Suisse yang mengoordinasikan pasien-pasien dari negara lain yang ingin mendapatkan tindakan DSA di rumah sakit tersebut. Sehingga mereka tidak harus mengantri bersama pasien dari Indonesia untuk pelayanan tersebut. "Saya tidak melakukan sendiri. Saya sudah melakukan regenerasi sampai level ketiga jadi ada tujuh dokter yang terlibat di sini," terang dr. Terawan.

Terkait masalah dugaan pelanggaran kode etik yang dilayangkan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) padanya, Terawan mengatakan IDI tidak mempermasalahkan tindakan DSA yang selama ini ia jalankan. Ia mengatakan tindakannya sudah dibuktikan melalui riset dan bukti ilmiah berkolaborasi dengan universitas Hasanudin dan lembaga lain di luar negeri. Ia pun mengatakan bahwa obat-obatan dan alat-alat yang digunakan telah teruji secara klinis.

"Kita mau melihat masalah atau peluang. Mengenai uji klinis, itu dilakukan pada obat-obatan. Obat yang dipakai dan alat yang dipakai sudah diuji klinis. Kalau masalah perbedaan persepsi, bisa diselesaikan dengan duduk bersama," terang dr. Terawan.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang mengatakan kerja sama tersebut diharapkan bisa memperkuat hubungan bilateral antar kedua negara yang selama ini sudah terjalin. Ia pun mendorong kolaborasi tidak hanya di bidang medical tourism tetapi juga peningkatan untuk layanan kesehatan.

"Setiap tahunnya ada 20 juta turis dari Vietnam berkunjung ke Indonesia dan juga sebaliknya," pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya