Cegah Penyakit tidak Menular Perlu Sinergi

Indriyani Astuti indriyani
07/11/2018 05:35
Cegah Penyakit tidak Menular Perlu Sinergi
(Putri Yuliani )

SINERGITAS untuk pencegahan dan pengendalian faktor risiko munculnya penyakit tidak menular belum terbangun. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya tren penyakit tidak menular pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, antara lain hipertensi, kardiovaskular, dan diabetes.

Direktur Penyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Arinie mengatakan sektor kesehatan tidak bisa sendirian dalam upaya menurunkan prevalensi penyakit tidak menular. Upaya pengendalian faktor risiko penyakit tersebut membutuhkan peran sektor lain.

"Misalnya, untuk menurunkan prevalensi perokok, dibutuhkan peran regulasi Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan agar harga jual rokok dinaikkan dan tidak dijual eceran sehingga anak-anak tidak bisa membelinya," katanya ketika dihubungi, kemarin.

Selain itu, ujarnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga bisa berperan mengatur regulasi yang ketat agar iklan rokok tidak dipasang pada radius 100 meter dari sekolah atau tempat yang bisa dilihat oleh anak-anak.

Menurutnya, kebiasaan me-rokok menjadi salah satu faktor risiko penyakit tidak menular. Rokok diduga berkolerasi dengan angka kejadian penyakit kardiovaskuler dan serang-an jantung. Selain itu, zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok juga bisa meningkatkan risiko kanker paru dan tenggorokan.

Obesitas dan diabetes, lanjut Cut, juga menjadi faktor risiko munculnya penyakit tidak menular. Pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak, bisa menyebabkan hipertensi dan diabetes.

Oleh karena itu, ia berharap Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dapat mendorong pihak industri makanan untuk mencantumkan tanda kandungan gula, garam, dan lemak pada kemasan produk jika sudah melewati batas yang disarankan. "Sehingga masyarakat paham dan memilih makanan yang akan mereka konsumsi."

Kemenkes, ujarnya, telah membuat pedoman gizi seimbang yang difokuskan pada peningkatan konsumsi sayur dan buah, pangan hewani, dengan mengurangi lemak serta minyak dan membatasi gula dan garam. Namun, peran Kementerian Pertanian juga sangat strategis dalam penyediaan buah dan sayur berkualitas dengan harga terjangkau.

"Penyakit tidak menular bisa dihindari dan ditekan angkanya jika kita, pemerintah, swasta, dan masyarakat, bersedia bersama-sama mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan," terangnya.

Cukai rokok

Di sisi lain, sejumlah kalangan masyarakat sipil meminta pemerintah melanjutkan kebijakan penaikan cukai rokok. Keputusan pemerintah yang baru-baru ini diumumkan, bahwa tidak menaikkan cukai rokok pada 2019, dinilai sebagai langkah kontraproduktif dalam menjaga kesehatan publik dan upaya pengendalian produk tembakau.

"Kami meminta pemerintah untuk mencabut penundaan dan lanjutkan penaikan cukai rokok. Industri rokok jelas musuh bagi generasi muda, kaum perempuan, dan pembangunan daya saing manusia," kata Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo dalam peryataan bersama koalisi organisasi masyarakat sipil di Jakarta. (Dhk/H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya