Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Indonesia sangat terlibat aktif di dalam penanganan pencemaran laut dan pengelolaan lahan gambut. Peran dan komitmen Indonesia ini sangat penting artinya bagi lingkungan global.
KESUKSESAN pemerintah Indonesia memfasilitasi The Fourth Intergovermental Review Meeting on The Implementation of The Global Programme of Action for The Protection of the Marine Environment from Land Based Activities (IGR-4) hingga berbuah Deklarasi Bali merupakan bukti kuat kepemimpinan Indonesia mengawal keberlangsungan ekosistem bumi.
Tidak sampai di situ, Menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar juga mengutarakan dirinya siap memfasilitasi konsensus lanjutan sebelum keputusan diambil oleh United Nation Environment Assembly (UNEA) di Kenya, Tahun Depan.
“Saya juga menyediakan waktu dan kesempatan untuk nanti di Pavilion Indonesia kita improve lagi pembahasannya lebih detail dari finansial,” ucap Siti yang menjadi yang memimpin langsung sidang IGR-4 di Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Kamis (1/11).
Sebagaimana diketahui, konsensus yang tercapai dan dituangkan dalam Deklarasi Bali sempat melalui perdebatan dinamis yang sebagian besarnya dilatarbelakangi oleh gap kesadaran lingkungan yang amat bervariasi antara negara berkembang dan negara maju. IGR sendiri merupakan forum yang berfungsi memberi rekomendasi pada sidang Dewan Lingkungan Hidup PBB (UNEA) yang akan menentukan rencana aksi global atau Global Programme of Action (GPA)
Menurut Siti, implikasi dari disepakatinya Deklarasi secara aklamasi ialah pentingnya pembahasan lebih mendetil terkait finansial dan sistem untuk mewujudkan visi-visi dalam deklarasi tersebut. Ia mengusulkan dan akan berkonsultasi dengan badan Lingkungan Hidup PBB untuk mengambil kesempatan kebersamaan negar-negara di dunia saat COP Ke 24 UNFCCC guna mendukung dialog tentang Inisiatif Kapasitas Daerah terkait pencemaran laut yang terhubung dengan kegiatan berbasis lahan.
Dialog ini akan diselenggarakan di Paviliun Indonesia di Katowice, Polandia, pada 12 Desember 2018. Indonesia terus mendorong usulan untuk hadirnya Bali Capacity Centre for Clean Seas atau pusat inisiatif perlindungan lingkungan ekosistem laut. ‘’Kami ingin mengundang negara-negara lainnya untuk bergabung dengan acara khusus ini,’’ kata Menteri Siti Nurbaya.
Bukan hanya negara, Indonesia juga mengundang dunia usaha dan pihak nonpemerintahan dalam forum tersebut. Sebabnya, IGR-4 yang sebetulnya adalah forum menteri lingkungan hidup sedunia sempat memanas lantaran negara maju menginginkan keterlibatan langsung pihak nonpemerintahan seperti NGO dan dunia usaha dalam perumusan GPA. Usulan itu dirasa berat bagi negara berkembang dengan masyarakat yang masih terbatas dalam memahami persoalan lingkungan.
Diplomat Senior yang juga berperan sebagai Ketua Kelompok Kerja atau penyusun komite Deklarasi Bali dalam IGR-4, Makarim Wibisono mengatakan upaya diplomasi Indonesia dalam mengatasi isu tersebut ialah dengan menyepakati IGR sebagai forum tingkat tinggi antara menteri LHK, sekaligus memfasilitasi para pihak nonpemerintahan untuk memberi masukan dalam forum lanjutannya.
“Indonesia ingin menonjolkan kepada masyarakat dunia bahwa hal-hal ini bisa dikerjasamakan dengan suasana kemitraan. Tidak melakukan konfrontasi menyalahkan siapa tapi mengajak serta,” jelasnya usai membacakan Deklarasi Bali.
Konsensus lanjutan itu diharapkan tetap mengukuhkan peran aktif dan kepemimpinan Indonesia dalam konteks lingkungan sebelum sidang umum UNEA.
Dibanjiri apresiasi
Berkat kepemimpinan yang berbuah manis itu pula Badan Lingkungan PBB (UN Environment) memberikan apresiasi atas peran penting dan komitmen kuat yang ditunjukkan Pemerintah Indonesia, dalam berbagai upaya pengelolaan lingkungan dengan tujuan global.
‘’Komitmen Indonesia terlihat nyata dari kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya. Ini terlihat melalui kerja-kerja yang sudah dilakukan,’’ kata koordinator GPA UN Environment, Habib El-Habr.
Dikatakan Habib, sambutan Menteri Siti Nurbaya saat pembukaan IGR-4 sudah merefleksikan komitmen dan pesan kuat dari Indonesia untuk mengatasi berbagai persoalan-persoalan pencemaran laut secara global.
‘’Indonesia sudah menunjukkan komitmen yang sangat tinggi dalam memerangi polusi di laut, dan ini sangat kami apresiasi,’’ tegasnya.
Regional Director UN Environment Asia Pacific, Dechen Tsering, juga turut memberi apresiasi. Dia mengatakan ada dua peranan penting Indonesia terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup global. Pertama, terkait dengan pengelolaan gambut, dan kedua adalah terkait dengan tata kelola kelautan.
‘’Indonesia sangat terlibat aktif di dalam penanganan pencemaran laut, dan pengelolaan lahan gambut. Peran dan komitmen Indonesia ini sangat penting artinya bagi lingkungan global,’’ katanya.
IGR-4 merupakan ajang badan lingkungan PBB. Tema yang diangkat pada pelaksanaan kali ini adalah ‘Pollution in Ocean and Land Connection’.
Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah, setelah pertemuan IGR ke-1 diselenggarakan di Montreal, Kanada pada tahun 2001, pertemuan IGR ke-2 di Beijing, China tahun 2006, dan pertemuan IGR ke-3 di Manila, Phillippina pada tahun 2012.
Pada IGR-4 hadir sejumlah Menteri Lingkungan Hidup beserta perwakilan negara-negara anggota UN Environment, NGO, para ahli, dan sejumlah anggota organisasi yang diakreditasi UN Environment Assembly. (S1-25)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved