Anjing dan Manusia Ancam Kelestarian Penyu Bali

(Deri Dahuri/H-3)
02/11/2018 07:50
Anjing dan Manusia Ancam Kelestarian Penyu Bali
( MI/PIUS ERLANGGA)

SIANG itu, matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya terasa membakar kulit. Kondisi pantai yang berada di Desa Saba, Gianyar, Bali, kemarin siang, membuat tubuh terus mengeluarkan peluh.

Namun, teriknya sinar mentari tak membuat puluhan orang di sana mengeluh. Sekelompok orang terlihat membawa batok kelapa yang berisi dua atau tiga ekor tukik (anak penyu). Dengan rapi mereka berbaris di pinggir pantai.

Dengan seruan komando, "Satu...dua...tiga!", mereka melepas lebih dari 200 tukik. Mereka bergerak perlahan menuju lautan.

Saat ombak datang, beberapa tukik terbalik tak dapat bergerak. Beberapa tukik lainnya terbawa deburan ombak ke tengah laut. "Tukik-tukik yang dilepas di pantai tidak semuanya bertahan hidup," ucap I Made Kikik, Ketua Kelompok Konservasi Penyu Desa Saba. Pelepasan tukik di pantai Saba itu dilaksanakan di sela-sela pertemuan Intergovernmental Review (IGR) ke-4 di Bali.

Keberadaan populasi penyu bali jika tidak dijaga dan dilindungi akan terus berkurang. Bahkan tidak menutup kemungkinan, penyu bali akan tinggal cerita.

Saat ini, masyarakat Bali belum mengetahui penyu sebagai satwa yang dilindungi. Penyu banyak yang diburu dan dikonsumsi. Ancaman kelestarian penyu juga datang dari anjing-anjing yang berkeliaran di pantai. "Anjing dan manusia merupakan pihak yang menyebabkan kelestarian penyu bali terancam."

Sebagaimana diketahui, penyu dan tukik itu memangsa sponge yang menempel di terumbu karang. Dengan lestarinya kehidupan tukik, kehidupan terumbu karang sebagai tempat kehidupan ikan akan turut terjaga dengan baik.

"Penyu dan tukik itu memangsa ubur-ubur dan anak-anak ikan. Jika manusia sembarangan membuang plastik di laut, akan dimakan penyu yang mengira ubur-ubur. Setelah makan plastik, penyu akan mati dalam waktu yang tak lama," papar Made.

Berkat kepedulian Made dan nelayan di Saba, kini kelestarian penyu bali bisa terjaga. Bahkan perkembangan hasil telur dari hasil penangkaran dan tukik yang dilepas ke pantai oleh kelompok nelayan Saba terus bertambah. Jika pada 2016, hanya 6.500 telur dan 27 ekor tukik yang dilepas, tahun ini telah menghasilkan 32.850 telur dan 2.327 tukik dilepas ke pantai.

Aksi itu mendapat dukungan dari PT Indonesia Power dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BSDA) Bali. Dukungan anak perusahaan PT PLN itu sebagai bentuk wujud dari pelaksanaan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Selain untuk melestarikan penyu, juga memberi edukasi kepada masyarakatwisatawan," kata General Manager PT Indonesia Power Igan Subawa Putra.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya