Tenaga Kesehatan Tingkat Primer Perlu Kompetensi Kanker

Putri Anisa Yuliani
01/11/2018 13:45
Tenaga Kesehatan Tingkat Primer Perlu Kompetensi Kanker
(DOK. MI/ATET DWI PRAMADIA)

PEMERINTAH dinilai sangat perlu untuk terus menjalankan program peningkatan kompetensi kepada tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau layanan primer khususnya soal kanker.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pencegahan kanker serta dalam upaya peningkatan deteksi dini penyakit kanker untuk meningkatkan kesintasan pasien kanker.

Sebab, nakes di tingkat primer merupakan sosok yang paling banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat saat tahap awal munculnya suatu penyakit.

"Untuk itu perlu sekali edukasi dan peningkatan kompetensi pada nakes di layanan primer. Mereka harus paham betul bagaimana menyosialisasikan pencegahan dan deteksi dini penyakit kanker," ujar Nafsiah saat menjadi pembicara dalam kongres kelima Indonesia Health Economics Association (InaHEA) yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (1/11).

Kanker setiap tahunnya membunuh 41 juta jiwa di seluruh dunia. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 prevelansi kanker/tumor di Indonesia mencapai 1,4 per 1000 penduduk atau 330ribu orang.

Di samping itu, menurut data Globocan 2018 diperkirakan terdapat 348.809 insiden kanker dan 207.210 kematian akibat kanker di Indonesia. Angka insiden ini diperkirakan akan meningkat hingga 36% pada 2030.

Nafsiah mengatakan nakes pun harus peka terhadap gejala penyakit kanker sehingga penyakit paling mematikan nomor dua di dunia setelah jantung itu bisa dideteksi dini dengan baik.

Melalui deteksi dini kemungkinan pasien kanker untuk selamat lebih besar. Selain itu, jika pasien datang ke dokter dan bisa didiagnosis lebih awal maka bisa menguntungkan pasien dari segi finansial.

Sebab, dari studi ASEAN Costs in Oncology (ACTION) tahun 2015 yang dilakukan di delapan negara ASEAN, disimpulkan bahwa diagnosis kanker berpotensi menimbulkan bencana keuangan dalam satu tahun pada 75% pasien kanker. Take hanya itu, dari studi Globocan 2018 Juga diketahui bahwa 65% pasien kanker di Indonesia datang setelah stadium memasuki fase lanjut.

"Semakin cepat dideteksi maka pengobatan yang perlu dijalani akan ringan, bisa ke faskes primer atau RS tipe C. Tentu jauh lebih murah jika dibanding datang berobat setelah stadium lanjut yang hanya bisa dilakukan di RS tipe A atau B yang jumlahnya terbatas," tegasnya.

Imbasnya bagi pemerintah menurut Nafsiah tentu semakin banyak pasien kanker yang bisa dideteksi di fase awal maka beban Jaminan Kesehatan Nasional menjadi berkurang. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya