Mikroplastik Ancaman Serius

Dhika Kusuma Winata dhika@mediaindonesia.com
01/11/2018 06:30
Mikroplastik Ancaman Serius
(ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

SAAT ini sampah di lautan, terutama sampah plastik, telah menjadi perhatian masyarakat internasional. Pembahasan sampah plastik pun menjadi agenda penting dalam pertemuan The Fourth Intergovermental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land Based Activities (IGR-4) yang tengah berlangsung di Bali.

Selain sampah plastik di laut bisa tersebar lintas lautan antarwilayah negara, material plastik dan hasil proses dekomposisinya yang berukuran mikro (kurang dari 5 milimeter), yang dikenal dengan sebutan mikroplastik, juga jadi perhatian serius.

Mikroplastik telah ditemukan tersebar pada lapisan perairan laut dan masuk sistem rantai makanan di lautan yang berujung pada manusia lewat konsumsi pangan dari laut.

Yang juga mengkhawatirkan, penelitian baru yang dilakukan profesor di Universitas Incheon Seung-kyu Kim dan Greenpeace Asia Timur menunjukkan 90% merek garam yang disampel secara global mengandung mikroplastik. Jumlah tertinggi ada pada sampel garam dari Asia.

Penelitian yang telah diterbitkan di jurnal ilmiah Environmental Science and Technology itu menganalisis 39 merek garam secara global, termasuk sampel dari Indonesia. Hasilnya kontaminasi plastik dalam garam laut ialah yang tertinggi, diikuti garam danau, kemudian garam batu. Data itu menjadi indikator tingkat polusi plastik di daerah-daerah sumber garam tersebut.

"Untuk membatasi paparan terhadap mikroplastik, langkah-langkah pencegahan diperlukan, menekan jumlah sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dan yang lebih penting, mengurangi sampah plastik," ujar Profesor Seung-kyu Kim.

Hal senada juga disampaikan Juru Kampanye Greenpeace Asia Timur, Mikyoung Kim. Ia menekankan polusi plastik harus dihentikan. Demi kesehatan manusia dan lingkungan, sangat penting bagi perusahaan dan masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Masuk aliran darah

Penelitian lain yang dilakukan sejumlah ilmuwan Eropa dan Asia juga menemukan mikroplastik di dalam feses. Jadi, ada kemungkinan partikel plastik berukuran kecil itu selama ini terkandung dalam lambung manusia karena konsumsi makanan atau minuman.

Penulis penelitian dr Phillip Schwabl dari University of Vienna mengatakan rata-rata ada sekitar 20 partikel plastik untuk setiap 3,5 ons feses. Lebih dari 95% partikel berasal dari plastik yang digunakan dalam kemasan makanan dan penyimpanan.

Plastik-plastik tersebut meliputi polipropilena (PP) yang biasa digunakan sebagai bahan pembuat tutup botol, polietilena tereftalat (PET) yang digunakan dalam botol minuman, polistirena dalam peralatan dan cangkir plastik, dan polietilena yang digunakan dalam kantong plastik dan wadah penyimpanan.

Belum ada penelitian pada manusia yang menunjukkan pengaruh mikroplastik pada kesehatan manusia. Namun, menurut Schwabl, penelitian pada hewan menunjukkan partikel mikroplastik mampu memasuki aliran darah, sistem limfatik, dan hati.

Penelitian lain pada hewan percobaan menunjukkan di dalam usus mikroplastik dapat menyebabkan kerusakan usus atau mengubah bentuk vili yang melapisi dinding usus. Ada juga beberapa kekhawatiran bahan-bahan kimia dalam mikroplastik dapat mengganggu sistem endokrin (hormonal).

Ekonomi melingkar

Tentu saja, persoalan sampah, termasuk sampah plastik di lautan, menjadi fokus kerja pemerintah dan berbagai pihak terkait di Indonesia. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, pemerintah menetapkan target pengelolaan sampah 100% pada 2025. Target tersebut dilakukan melalui pengurangan sampah sebesar 30% dan pengelolaan sampah sebesar 70%.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan saat ini paradigma pengolahan sampah digeser ke konsep ekonomi melingkar (circular economy), yaitu memperpanjang masa pakai sampah menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk dimanfaatkan kembali sebagai alternatif bahan baku atau didaur ulang menjadi produk baru. Konsep tersebut berakar kepada strategi 3R alias pengurangan (reduce), guna ulang (reuse), dan daur ulang (recycle). (Ant/H-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya