IDAI Beri Pelatihan Tenaga Kesehatan Agar Paham Soal Diabetes

Putri Anisa Yuliani
31/10/2018 17:35
IDAI Beri Pelatihan Tenaga Kesehatan Agar Paham Soal Diabetes
(MI/Putri Yuliani)

GUNA meningkatkan deteksi dini penyakit diabetes pada anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pelatihan terhadap tenaga kesehatan seperti perawat maupun dokter spesialis anak. Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, Aman Bhakti Pulungan, salah satu faktor tidak tepatnya diagnosa yang diberikan pada pasien oleh tenaga kesehatan yakni ketidakpekaan mereka terhadap penyakit diabetes yang dapat menyerang semua usia.

"Tenaga kesehatan kita banyak yang belum menyadari bahwa anak-anak dari yang baru lahir sampai 18 tahun bisa kena diabetes. Pelatihan ini bukan cuma untuk meningkatkan kompetensi tetapi juga membangun kepekaan tersebut," terangnya dalam Media Briefing bertema Anak Juga Bisa Diabetes di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (31/10).

Aman menjelaskan, gejala diabetes yang kerap dialami anak sebetulnya tidak jauh berbeda seperti yang dialami oleh orang dewasa. Namun, karena kurangnya kepekaan tenaga kesehatan, gejala ini pun kerap diabaikan dan mengira adanya penyakit lain.

"Tanda yang paling sering timbul pada anak-anak adalah sering terkena gatal-gatal yang dianggap hanya biang keringat atau alergi. Lalu juga anak kerap mengompol, disangka itu hanya hal biasa. Padahal sering buang air kecil juga salah satu tanda penyakit diabetes," terangnya.

Ia berharap dengan pelatihan yang rutin tersebut dapat meningkatkan pengetahuan kepada para tenaga medis sehingga dapat memberikan diagnosa yang tepat. Sebab, deteksi dini dan diagnosa yang tepat sejak awal mampu menyelematkan hidup penderita diabetes. "Semakin cepat dideteksi dan ditangani dengan tepat, nyawa penderita diabetes dapat diselamatkan dan ia tetap mampu memiliki hidup yang berkualitas," tandasnya.

Selain itu, ia pun meminta dukungan pemerintah untuk bisa membangun kewaspadaan diabetes dari segala lini. Seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan dan Kementerian Agama yang harus ikut berkontribusi mengawasi pencegahan penyakit di sekolah-sekolah. Begitu juga dari Kementerian Perdagangan maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang bisa membuat regulasi sedemikian rupa agar peredaran makanan tinggi gula dan garam bisa diawasi dengan maksimal.

"Kita bisa mencontoh seperti di luar negeri yang mana kemasan-kemasan makanan maupun ringan itu sudah diberi label yang sangat jelas tentang tingkat kalori, gula, garam, dan batas konsumsi maksimal. Sehingga konsumen turut bisa mengetahui batas aman konsumsi produk tersebut," paparnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya