Revolusi Mental Penting untuk Rawat Kebhinekaan

Heryadi
27/10/2018 16:25
Revolusi Mental Penting untuk Rawat Kebhinekaan
( ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)

REVOLUSI mental sangat dibutuhkan untuk merawat kebhinekaan di Indonesia karena dengan revolusi mental dapat mencegah konflik dan membina perdamaian. Demikian benang merah Rembuk Nasional Gerakan Indonesia Bersatu yang digelar di Peninsula Hotel Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (27/10). Rembuk nasional tersebut merupakan rangkaian Pekan kerja nyata (PKN) Revolusi Mental yang memasuki hari kedua.

Muhammad Najib Azca, Kepala Departemen Sosiologi Pusat Studi Keamanan dan perdamaian Universitas Gajah Mada, mengatakan kebhinekaan merupakan takdir sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejak era Presiden Soekarno, kebhinekaan dijaga dan dirawat dengan kombinasi etos wacana narasi nasionalisme yang hebat dari Bung Karno dan pengelolaan militer.
Kemudian di masa Orde Baru, pengelolaan kebhinekaan dan konflik dipercayakan kepada militer. Lalu fase awal reformasi ditandai dengan maraknya konflik komunal identitas, etnik ras dan agama. ''Alhamdulillah kita pelan-pelan belajar belajar menangani konflik," kata Azca.

Namun berbeda dengan konflik di era reformasi yang berkepanjangan mulai dari Aceh, Papua dan Kalimantan. Kini, konflik yang terjadi merupakan routine violence, bentuknya beragam misalnya perkelahian pemuda. ''Revolusi mental dapat mencegah konflik dan dan membina perdamaian!' kata Azca.

Dia mengatakan revolusi mental merupakan gerakan multi level yang bersandar pada pemerintah. Karena itu, kata Azca, revolusi mental harus terus menjadi gerakan sosal.

Dia mengatakan pemerintah harus mencari strategi baru dalam menangani konflik di antaranya, penaganan konflik harus persuasif humanistik dan berbasis data. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya