Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LINDA Amalia Sari, 66, telah bertahun-tahun aktif menggencarkan deteksi dini kanker payudara. Melalui Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang didirikannya bersama dr Sutjipto Sp(B)Onk (alm), Tati Hendropriyono, Andy Endriartono Sutarto, dan Rima Melati, Linda ingin masyarakat lebih mengetahui dan mewaspadai kanker payudara. Terlebih, ia merupakan penyintas kanker payudara.
Perempuan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu mengungkapkan, saat dirinya pertama kali didiganosis kanker payudara pada 1996, ia merasa tak mudah menghadapinya.
"Nyawa saya dibilang tinggal 40%. Saya minta sama Allah agar diberi kesembuhan. Saya berobat mengikuti Mbak Rima Melati, dokternya beliau juga. Saya berdoa, kalau saya diberi kesembuhan, saya ingin menurunkan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut," tutur Linda ketika ditemui seusai acara Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Metode Mamografi di Kompleks Media Group, Jakarta, Kamis (25/10).
Setelah enam tahun menjalani pengobatan, ia dinyatakan sembuh. Linda pun sangat bersyukur. Dia tak ingin orang lain merasakan pengalaman sepertinya.
Oleh karena itu, istri dari Agum Gumelar itu berkomitmen untuk menggencarkan deteksi dini untuk mencegah kaum perempuan jangan sampai terkena kanker. Atau andai pun terkena, masih dalam stadium dini sehingga pengobatannya lebih mudah.
"Penting bagi kita selalu menjaga kesehatan. Ubah pola hidup menjadi lebih sehat dan berpikir positif. Bapak-bapak juga bisa terdiganosis kanker payudara, jumlahnya kecil dan biasanya lebih ganas. Karena itu, moto dari YKPI ialah saling jaga, saling peduli," terangnya.
Rumah singgah
Linda menuturkan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini, YKPI mempunyai mobil mamografi yang dapat digunakan masyarakat untuk memeriksakan diri. Yayasannya juga memberikan pelatihan pendampingan pasien kanker payudara.
Selain itu, mulai 2017, YKPI menyediakan rumah singgah bagi pasien kanker payudara peserta program Jaminan Kesehatan Nasional kelas 3 yang tengah menjalani pengobatan. Letaknya, terang Linda, di Jl Anggrek Neli Murni, No A38, Slipi, Jakarta Barat, tidak jauh dari Rumah Sakit Pusat Kanker Dharmais.
"Misalnya, yang harus menjalani terapi sinar atau radiasi 30 kali setiap hari. Kalau dia rumahnya di luar Jakarta repot harus bolak-balik. Makanya, rumah singgah YKPI hadir supaya pasien kanker payudara makin mudah berobat," ujarnya.
YKPI juga punya program pengajaran keterampilan dan kerajinan tertentu agar bisa menghasilkan karya yang dapat dijual. "Ini dilakukan di komunitas kami, berbagi bersama mereka. Kadang, yang menyedihkan, baru bertemu lalu ada kabar dia meninggal dunia. Tetapi paling tidak, di akhir kehidupannya dia bersama komunitas, diliputi kebersamaan dan saling berbagi," pungkasnya. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved