GERAKAN Ayo Nonton Film Indonesia masih menjadi jargon para sineas demi menÂjaring penonton. Tak mengherankan, aksi yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu pun terus menarik simpati.
Film sebagai alat propaganda menjadi wadah untuk menyosialisasi film-film 'pesanan' ke masyarakat. Kementerian bersangkutan menyediakan fasilitas berupa 60 mobil keliling. Sayang, film-film yang diputar di mobil keliling masih terbatas.
Kini, lewat perayaan Hari Film Nasional ke-65, Presiden Joko Widodo pun akan turut serta menonton bareng di Istana Presiden, Jakarta, Senin (30/3).
Ini menjadi hal bersejarah. Kapasitas penonton pun terbatas, yaitu hanya 500 orang. Termasuk, undangan khusus perwakilan kalangan bawah seperti tukang becak dan tukang nasi goreng. Terlepas dari nonton bareng, masih ada hal-hal yang menjadi perhatian panitia Hari Film Nasional. Salah satunya, yaitu minimnya pengetahuan pekerja film. Itu memacu sutradara Lance Mengong dan Robby Ertanto mengerjakan proyek penerjemahan buku asing ke bahasa Indonesia.
Ada 12 buku referensi. Pembahasan pun mencakup topik penyutradaraan, produser, penulisan skenario, editing, dan sinematografi. Buku-buku pun tak panitia sebutkan secara terperinci. Yang pasti, proses pengurasian buku terjemahan diputuskan atas referensi buku yang laik baca di berbagai negara.
"Pekerja film sudah banyak. Namun, banyak pula yang belum paham film. Kami akan menerjemahkan 12 buku asing. Ada 10 buku akan diterjemahkan tahun ini. Calon sutradara bisa belajar dari buku-buku terjemahan sebagai referensi," ujar Robby Ertanto, selaku panitia Perayaan Hari Film Nasional di Jakarta, pekan lalu.
Kualitas film diragukan Terlepas dari perayaan Hari Film Nasional, Gabungan Pengusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menyayangkan minimnya kualitas film nasional. Hal itu sangat berdampak pada menurunnya tingkat penonton di bioskop.
"Tidak semua film Indonesia berkualitas. Kami sangat menyayangkan masih banyak produser yang belum selesai memproduksi film. Namun, mereka sudah meminta slot (jadwal tayang) di bioskop. Ini salah satu faktor yang membuat kualitas film merosot," ujar Ketua Umum DPP GPBSI Djonny Syafruddin di tempat terpisah.
Industri film pernah mengalami masa keemasan pada 2008. Pada waktu itu, tercatat 30 juta penonton menyaksikan film nasional ataupun asing. Dua film yang mendongkrak bioskop, yaitu Ayat-ayat Cinta garapan Chaerul Umam dan Laskar Pelangi besutan Riri Riza.
Dalam 5 tahun terakhir kini, penonton mengalami penurunan drastis.
Isu pembatasan film asing di bioskop pun juga sempat menuai kontroversi. Djonny pun menilai pembatasan film asing dapat berakibat buruk bagi sindikat pembajakan. "Jika hal ini terjadi, buka saja pengusaha bioskop yang merugi. Pemerintah pun juga akan berimbas atas pendapatan pajak yang masuk lewat film impor legal," tandasnya.
Persoalan utama dalam peredaran film di bioskop pun masih berpaku kepada film mainstream. Film-film bercorak kiri (radikal) pun tak akan masuk. Pihak bioskop beralasan tidak bisa memutar karena bisa berakibat buruk.
"Bila kami memutar film Senyap (garapan Joshua Oppenheimer), apa yang akan terjadi? Mungkin saja, ada pihak yang akan masuk ke bioskop. Tentu, bila terjadi perusakan, kamilah yang rugi," ungkap Direktur 21 Cineplex, TR Anitio.
Anitio maupun Djonny pun taProduser Ody Mulya Hidayat optimistis film Indonesia masih bisa menjadi raja di negeri sendiri. Ia yakin atas kualitas sebagian sineas Indonesia yang mendedikasikan diri dalam dunia sinematografi.
"Saya kira, kualitas film Indonesia bisa diatasi dengan manajemen. Memproduksi sebuah film juga perlu diimbangi dengan pendanaan dan kinerja tim yang solid." jelas Ody.
Sudah waktunya film Indonesia jaya kembali. Penonton bisa menyaksikan film impor tanpa harus minder menonton juga film lokal. Gerakan Ayo Nonton Film Indonesia pun menembus Istana Presiden. Setidaknya bukan slogan semata. (M-2)